Penggunaan Variasi Register dalam Artikel di Media Massa Cetak

By | November 8, 2016

variasi-register-media-massa-cetakAbstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menggambarkan penggunaan register dalam bahasa tulis dalam artikel-artikel publik di media massa cetak berupa koran atau tabloid; dan (2) menggambarkan kondisi sosio-linguitik dari penulis dan pembaca media massa cetak dewasa ini.

Penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis wacana sebagai teknik analisis data yang dipakai. Data adalah artikel-artikel yang memiliki register di dalamnya. Sumber data yakni Koran Merapi Sabtu 28 Mei 2016, Harian Tribun Jogja 1 Mei 2016 dan Tabloid Nyata edisi 2339 Minggu ke I Mei 2016.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan register dalam bahasa tulis khususnya dalam artikel-artikel publik dalam koran sudah sangat banyak. Hampir semua artikel dari berbagai topik atau tema memunculkan register masing-masing. Hal ini tentunya akan memberikan tambahan informasi dan wawasan bagi para pembaca jika penulis dapat menampilkan sebuah register secara utuh. Selain itu, hasil penelitian ini juga menggambarkan pula beberapa penulis belum memiliki kepekaan pada kompetensi pembaca media dimana artikelnya dimuat, sementara kompetensi pembaca media massa cetak tersebut sangatlah beragam atau heterogen. Seyogianya, seorang penulis memahami kondisi kompetensi wawasan dari segmen pembaca media yang akan memuat artikelnya. Ini penting, agar informasi yang disampaikan dapat dicerna secara utuh oleh pembaca dan secara khusus pembaca akan menyukai media tersebut.

Kata kunci: artikel, register, penulis, pembaca.

A. Pendahuluan

Register adalah sebuah fenomena kebahasaan yang ada di dalam masyarakat. Register merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya sifat-sifat khas keperluan pemakainya, misalnya bahasa tulis terdapat bahasa iklan, bahasa tunjuk, bahasa artikel, dan sebagainya, dalam bahasa lisan terdapat bahasa lawak, bahasa politik, bahasa doa, bahasa pialang dan sebagainya. Hal ini adalah salah satu bagian dari variasi bahasa dalam sosiolinguistik.

Secara sederhana Pride dan Holmes merumuskan sosiolinguistik sebagai “the study of language as part of culture and society,” yaitu kajian bahasa sebagai bagian dari kebudayaan dan masyarakat. Sosiolinguistik menelaah penggunaan bahasa sebagai alat interaksi anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat sebagai unsur penting di samping bahasa sendiri dalam penelaahan sosiolinguistik. Tata bahasa tidak lengkap apabila dalam kaidah-kaidahnya tidak dimasukkan faktor sosial seperti umur, keluarga, latar belakang, dan kelompok masyarakat. Faktor sosial berpengaruh terhadap munculnya variasi bahasa, baik berupa kalimat maupun ujaran dalam masyarakat.

Trudgill (1983) mengungkapkan sosiolinguistik adalah bagian dari linguistik yang berkaitan dengan bahasa sebagai gejala sosial dan gejala kebudayaan.Bahasa bukan hanya dianggap sebagai gejala sosial melainkan juga gejala kebudayaan. Implikasinya adalah bahasa dikaitkan dengan kebudayaan masih menjadi cakupan sosiolinguistik, dan ini dapat dimengerti karena setiap masyarakat pasti memiliki kebudayaan tertentu.

Sebagai anggota masyarakat sosiolinguistik terikat oleh nilai-nilai budaya masyarakat, termasuk nilai-nilai ketika dia menggunakan bahasa. Nilai selalu terkait dengan apa yang baik dan apa yang tidak baik, dan ini diwujudkan dalam kaidah- kaidah yang sebagian besar tidak tertulis tapi dipatuhi oleh warga masyarakat. Apa pun warna batasan itu, sosiolinguistik itu meliputi tiga hal, yakni bahasa, masyarakat, dan hubungan antara bahasadan masyarakat.

Berdasarkan batasan-batasan tentang sosiolinguistik di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik itu meliputi tiga hal, yakni bahasa, masyarakat, dan hubungan antara bahasa dengan masyarakat. Sosiolinguistik membahas atau mengkaji bahasa sehubungan dengan penutur ,bahasa sebagai anggota asyarakat. Bagaimana bahasa itu digunakan untuk berkomunikasi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya untuk saling bertukar pendapat da berinteraksi antara individu satu dengan lainnya.

Adanya berbagai macam perbedaan dalam masyarakat seperti jenis kelamin, umur, status, dan kelas mengakibatkan berbagai macam variasi bahasa. Manusia dalam masyarakat mempunyai sifat elastis karena manusia bermasyarakat sehingga menempati tempat dan menemui suasana yang sangat bervariasi. Di samping sebab-sebab di atas, variasi bahasa juga diakibatkan oleh manusia itu sendiri secara alamiah yang mempunyai daya kreatif. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam (Chaer dan Agustina, 2004: 61).

Variasi sebagai langue mempunyai sistem dan subsistem yang dipahami sama oleh penutur bahasa. Penutur berada dalam masyarakat heterogen sehingga wujud bahasa (parole) menjadi bervariasi. Variasi merupakan padanan dalam bahasa Perancis Variètè4 yang berarti ragam atau jenis. Adanya variasi bahasa tidak mutlak disebabkan oleh penutur, tetapi juga faktor interaksi sosial yang dilakukan oleh penutur. Keragaman bahasa akan semakin bertambah apabila bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang banyak serta berada dalam wilayah yang luas. Variasi bahasa menurut C.A. Ferguson dan J.D. Gumperz dalam Allen (ed) 1973:92;

“A variety is any body of human speech patterns which is sufficiently homogeneos to be analysed by available techniques of syncronic description and which has a suffiently large repertory of elements and function in all normal contexs of communication”.

Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa dalam variasi bahasa ada pola-pola bahasa yang sama. Pola-pola bahasa itu dapat dianalisis secara deskriptif. Pola-polanya dibatasi oleh makna tersebut yang dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi. Lebih lanjut, variasi bahasa atau ragam bahasa adalah penggunaan bahasa menurut pemakainya, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan serta menurut medium pembicaraan (KBBI, 2003: 920).

Wujud variasi bahasa berupa idiolek, dialek, tingkat tutur (speech levels), ragam bahasa dan register. Penjelasan kelima variasi bahasa tersebut dapat dijelaskan seperti berikut :

1. Idiolek merupakan variasi bahasa yang sifatnya individual, maksudnya sifat khas tuturan seseorang berbeda dengan tuturan orang lain.

Contoh : bahasa yang dapat dilihat melalui warna suara.

2. Dialek merupakan variasi bahasa yang dibedakan oleh perbedaan asal penutur dan perbedaan kelas sosial penutur, oleh karena itu, muncul konsep dialek geografis dan dialek sosial (sosiolek)

Contoh: iyya’ berarti saya yang digunakan di daerah tertentu yaitu daerah bugis (Sulawesi Selatan).

3. Tingkat tutur (speech levels) merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya perbedaan anggapan penutur tentang relasinya dengan mitra tutur.

Contoh: kita memberikan sesuatu pada orang yang lebih tua menggunakan bahasa yang berbeda dengan kita memberikan kepada teman yang sebaya.

4. Ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya perbedaan dari sudut penutur, tempat, pokok turunan dan situasi. Dalam kaitan dengan itu akhirnya dikenal adanya ragam bahasa resmi (formal) dan ragam; bahasa tidak resmi (santai, akrab).

Contoh : formal “ingkang kula urmati” biasanya terdapat pada pembukaan pidato. Santai atau akrab: “nuwun yo” mengucapkan terimakasih pada teman sebaya yang sudah akrab.

5. Register merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya sifat-sifat khas keperluan pemakainya, misalnya bahasa tulis terdapat bahasa iklan, bahasa tunjuk, bahasa artikel, dan sebagainya, dalam bahasa lisan terdapat bahasa lawak, bahasa politik, bahasa doa, bahasa pialang dan sebagainya. Contoh :“ijuk” adalah tambang yang dipasang di dinding goa yang digunakan untuk menyeberang.

Register merupakan ragam bahasa yang dipergunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial atau regional ( yang bervariasi karena penuturnya) register ini dapat dibatasi menjadi lebih sempit dengan acuan pada pokok ujaran, pada media atau pada tingkat keformalan (Harman dan Stork dalam Alwasilah 1993 : 53). Register menurut Halliday (1994 :54) merupakan konsep semantik yang dapat didefinisikan sebagai suatu susunan makna yang dihubungkan secara khusus dengan susunan tertentu dari medan, pelibat, dan sarana. Ungkapan susunan makna register termasuk juga ungkapan dari ciri leksiko gramatis dan fonologis yang secara khusus menyertai atau menyatakan makna- makna.

Register merupakan ragam bahasa berdasarkan pemakaianya, yaitu bahasa yang digunakan tergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatannya. Register mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial, yaitu proses sosial yang merupakan proses macam- macam kegiatan sosial yang biasanya melibatkan orang. Register merupakan bentuk makna khususnya dihubungkan dengan konteks sosial tertentu, yang di dalamnya banyak kegiatan dan sedikit percakapan, yang kadang- kadang sering disebut dengan bahasa tindakan.

Dengan kata lain, register dipahami sebagai konsep semantik yaitu sebagai susunan makna yang dikaitkan secara khusus dengan susunan situasi tertentu. Konsep situasi menurut Halliday mengacu pada tiga hal, yaitu (1) medan (field), (2) pelibat (tenor), (3) sarana (mode). Medan mengacu pada hal yang sedang terjadi atau pada saat tindakkan berlangsung, apa sesungguhnya yang sedang disebutkan oleh para pelibat (bahasa termasuk sebagai unsur pokok tertentu). Pelibat menunjukan pada orang yang turut mengambil bagian, sifat para pelibat, kedudukan dan peran mereka.Sarana menunjuk pada peranan yang diambil bahasa dalam situasi tertentu, seperti bersifat membunjuk, menjelaskan, mendidik, dan sebagainya.

Lebih lanjut dalam sosiolinguistik dijelaskan konsep register secara lebih sempit, yakni mengacu pada pemakaian kosakata khusus yang berkaitan dengan kelompok pekerjaan yang berbeda. Di samping itu register juga merupakan variasi bahasa yang berbeda satu dengan lainnya karena kekhasan penggunannya. Berdasarkan pada situasi pemakaiannya Chaer (1995 : 90) menyatakan bahwa register merupakan variasi bahasa menurut pemakaiannya yang digunakan oleh sekelompok orang atau masyarakat tertentu sesuai dengan profesi dan perhatian yang sama.

Ferguson (1971) berpendapat register adalah situasi komunikasi yang terjadi berulang secara teratur dalam suatu masyarakat (yang berkenaan dengan partisipan, tempat, fungsi- fungsi komunikatif, dan seterusnya) sepanjang waktu cenderung akan berkembang menandai struktur bahasa dan pemakaian bahasa yang berbeda dengan pemakaian bahasa pada situasi komunikasi yang lain.

Register sering dihubungkan dengan masalah dialek jika dialek berkenaan dengan bahasa yang digunakan oleh siapa, di mana, dan kapan, maka register berkenaan dengan bahasa itu dugunakan untuk kegiatan apa. Masyarakat di daerah tertentu memiliki dialek yang berbeda dengan daerah lain. Meskipun demikian, ada berbagai macam register yang muncul.Regiater tersebut disebabkan kegiatan masyarakat yang bermacam-macam.

Alwasilah (1985:22) mengatakan bahwa penggunaan bahasa yang khas dalam linguistik disebut linguistik. Adi Sumartono (1993:24) mengatakan bahwa register merupakan perangkat makna pengguna bahasa dengan makna dan tujuan yang relevan dengan fungsi, bahasa secara khusus. Fungsi tersebut meliputi kata- kata, penggunaan istilah dan idiom-idiom, pilihan struktur, ragam lisan atau tulisan-tulisan dan gaya wacana.

Pengertian register menurut wilkins (dalam pateda, 1990:60) bahwa register adalah ragam pemakaian bahasa yang dihubungkan dengan pekerjaan seseorang. Register dibedakan dalam jenis-jenis berikut:

1. Oratorical atau frozen (baku); yaitu register yang digunakan oleh pembicara yang profesional karena pola dan kaidahnya sudah mantap, biasanya digunakan pada situasi yang khidmad, seperti pada mantra, undang-undang, kitab suci, dan lain sebagainya.

2. Deliberative atau formal; yaitu register yang digunkan pada situasi resmi sesuai dengan tujuan untuk memperluas pembicaraan yang disengaja, misalnya pidato kenegaraan, peminangan, dan sebagainya.

3. Consultative atau usaha; yaitu register yang digunakan dalam transaksi kenegaraan , peminanagan, dan sebagainya.

4. Casual atau santai; yaitu register yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Ragam ini banyak menggunakan allegro, yaitu bentuk kata yang diperpendek.

5. Intimate atau intim; yaitu register yang digunakan pada situasi antar anggota keluarga.

Halliday (1994 :25) mengemukakan bahwa register adalah bahasa yang dipergunakan saat ini. Tergantung pada apa saja yang sedang dikerjakan. Selain itu, sifat kegiatannya mencerminkan aspek lain dari tingkat social yang biasanya melibatkan orang.

Berdasarkan uraian tentang register di atas, dapat disimpulkan bahwa, register adalah ragam bahasa menurut pemakaianya, yaitu bahasa yang digunakan tergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatannya. Register mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial, yaitu proses sosial yang merupakan macam- macam kegiatan sosial yang selalu melibatkan orang.

Register dibagi menjadi dua bentuk yaitu register selingkung terbatas dan register selingkung terbuka. Register selingkung terbatas maknanya sedikit, sifatnya terbatas jumlah kata dan maknanya terbatas sehingga beritanya terbatas dan tertentu, register ini merupakan yang tidakk mempunyai tempat secara konkrit dalam masyarakat maupun dalam tataran individu dan kreativitas, karena sudah jarang dipakai.

Register selingkung terbuka mempunyai corak- corak makna yang berhubungan dengan register, bahasa yang digunakan dalam register yang lebih terbuka adalah bahasa tidak resmi atau percakapan spontan. Namun, register ini tidak ada situasi maknanya ada tingkat tertentu tidak ditujukan secara langsung selalu ada ciri yang dijelaskan ( Halliday 1994 : 53-55).

Halliday (dalam Nababan, 1985 :42) menyebutkan bahwa fungsi register antara lain:

1. Fungsi Instrumental yaitu bahasa yang berorientasi pada pendengar atau lawan tutur. Bahasa yang digunakan untuk mengatur tingkah laku pendengar sehingga lawan tutur mau menuruti atau mengikuti apa yang diharapkan penutur atau penulis. Hal ini dapat dilakukan oleh penutur atau penulis dengan menggunakan ungkapan- ungkapan yang menyatakan permintaan, himbauan, atau rayuan.

2. Fungsi interaksi yaitu fungsi bahasa yang berorientasi pada kontak antara pihak yang sedang berkomunikasi. Register dalam hal ini berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan serta memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu berjumpa, berkenalan, menanyakan keadaan, meminta pamit, dan lain sebagainya.

3. Fungsi kepribadian atau personal yaitu fungsi bahasa yang berorientasi pada penutur. Bahasa digunakan untuk menyatukan hal-hal yang bersifat pribadi. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan dirinya.

4. Fungsi pemecah masalah atau heuristik yaitu fungsi pemakaian bahasa yang terdapat dalam ungkapan yang meminta, menurut, atau menyatakan suatu jawaban terhadap masalah atau persoalan. Bahasa yang digunakan biasanya sebagai alat untuk mempelajari.

5. Fungsi hayal atau imajinasi yaitu fungsi pemakaian bahasa yang berorientasi pada amanat atau maksud yang akan disampaikan. Bahasa dalam fungsi ini digunakan untuk mengungkapkan dan menyampaikan pikiran atau gagasan dan perasaan penutur atau penulis.

6. Fungsi informasi yaitu pemakaian bahasa yang berfungsi sebagai alat untuk memberi suatu berita atau informasi supaya dapat diketahui orang lain.

Berdasarkan lima kategori variasi bahasa di atas, register adalah variasi yang dewasa ini banyak ditemui dalam komunikasi lisan dan tulis namun, masih kurang diteliti. Penelitian ini fokus pada variasi berupa register yang ada dalam artikel media cetak seperti koran dan tabloid yang dianalisis dalam perspektif sosiolinguistik. Hasil penelitian ini akan memberikan gambaran tentang penggunaan register dalam bahasa tulis khususnya dalam artikel-artikel publik dalam koran. Selain itu, akan menggambarkan pula kondisi sosio-linguitik dari penulis dan pembaca koran tersebut. Ini sangat penting karena melalui hasil yang diperoleh akan dijadikan referensi pengajaran bahasa yang baik dan benar dalam tulisan ilmiah maupun non ilmiah.

B. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Masalah penelitian ini dikaji dengan menggunakan pendekatan teoritis sosiolinguistik dan wacana tulis. Implikasi dari pendekatan itu adalah penelitian ini memfokuskan kajian pada bahasa yang ada pada tulisan artikel di koran dan tabloid.. Secara metodelogis, pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Artikel dalam koran dan tabloid adalah salah satu bentuk wacana. Wacana adalah merupakan satuan bahasa yang paling besar yang digunakan dalam komunikasi.

Satuan bahasa di bawahnya secara berturut-turut adalah kalimat, frasa, kata dan bunyi. Secara berurutan, rangkaian bunyi membentuk kata, rangkaian kata membentuk frasa dan rangkaian frasa membentuk kalimat, akhirnya rangkaian kalimat membentuk wacana (Arifin, Bustanul, 2000:3). Pendapat ini senada dengan pendapat Cook (1989), Brown dan Yule (1983), Widdowson (1981), Halliday dan Hasan (1979) bahwa wacana merupakan suatu pengalaman bahasa dalam komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Wacana merupakan satu kesatuan semantik, dan bukan kesatuan gramatikal.

2. Data dan Sumber Data

Penelitian ini data tulis berupa artikel atau tulisan yang bersumber dari Koran Merapi Sabtu 28 Mei 2016, Harian Tribun Jogja 1 Mei 2016 dan Tabloid Nyata edisi 2339 Minggu ke I Mei 2016. Data tertulis adalah data-data yang akan dibahas diperoleh dari artikel-artikel yang ada pada ketiga sumber data di atas.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik identifikasi. Artikel yang ada pada tiga sumber dibaca secara seksama untuk mengidentifikasi penggunaan register yang ada di dalamnya. Artikel yang ditemukan terdapat register, dipilih sebagai data penelitian.

4. Teknik Analisis Data

Pada tahap analisis data, digunakan metode analisis wacana. Menurut Stubbs (1983:1) analisis wacana adalah suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antarpenutur. Senada dengan Cook (1986: 6-7) dalam hal ini menyatakan bahwa analisis wacana merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana itu adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Berdasarkan tujuan berkomunikasi, wacana dapat dibedakan menjadi wacana deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi.

C. Hasil dan Pembahasan

Dari proses pengumpulan data dari sumber data yakni dari Koran Merapi Sabtu 28 Mei 2016, Harian Tribun Jogja 1 Mei 2016 dan Tabloid Nyata edisi 2339 Minggu ke I Mei 2016 didapatkan penggunaan register pada hampir semua topik atau tema artikel. Berikut ditampilkan beberapa hasil temuan.

Data register breeder (peternak kucing) ditemukan dalam artikel Koran Merapi yang berjudul “Tampilkan Berbagai Kucing Ras Langka”. Kalimat lengkap dari register tersebut ditampilkan di bawah ini.

Register breeder atau peternak yang digunakan oleh penulis pada artikel tersebut dapat dipahami oleh pembaca pada umumnya. Hal ini disebabkan karena, penulis memberikan pemaknaan setelah kata register khusus bagi pencinta kucing. Dari artikel tersebut, pembaca mendapatkan kosakata baru tentang peternak khusus kucing dikenal dengan nama breeder.

Register breeder dalam artikel ini menjalankan fungsi keenam dari register menurut Halliday yakni fungsi informasi. Fungsi informasi yaitu pemakaian bahasa yang berfungsi sebagai alat untuk memberi suatu berita atau informasi supaya dapat diketahui orang lain. Pembaca yang bukan berasal dari komunitas pencinta kucing mendapatkan informasi baru tentang istilah yang dipakai di kalangan komunitas tersebut.

Data register berikutnya adalah iconic wrap dress, simple cut but still sophisticated. Register ini adalah register langsung dari narasumber berita. Register ini adalah register di kalangan perancang busana. Data ini diambil dari artikel dalam tabloid Nyata. Penggunaan istilah atau register dalam bahasa Inggris adalah hal lumrah bagi sebuah kalangan tertentu. Termasuk kalangan perancang busana yang secara sejarah, profesi ini berasal dari daratan Eropa. Sehingga penggunaan register dalam bahasa Asing dianggap biasa. Seperti nampak pada kutipan artikel di bawah.

Namun, penulis artikel harus mempertimbangkan kompetensi pembaca dari tabloid ini. Jangan sampai, fungsi kepribadian atau personal yang berorientasi pada penutur dalam artikel tersebut mengabaikan fungsi informasinya. Unsur pembaca menjadi hal penting yang seharusnya diperhatikan. Penulis artikel ini melupakan hal ini, karena register dalam bahasa Asing tidak diberi penjelasan lebih lanjut. Oleh karenanya, bagi pembaca dari kalangan bukan penikmat mode, artikel ini akan diabaikan atau tidak dapat memberikan informasi secara maksimal.

Data register ketiga adalah run way. Register ini adalah masih dari kalangan pencinta mode. Register run way ini dikenal juga dalam register penerbangan. Namun. Penulis artikel telah memberi kata pengantar yang jelas sehingga kesalahpahaman atas makna dari register tersebut tidak terjadi. Kalimat selengkapnya dapat dilihat di bawah ini.

Register ini secara umum memberikan informasi pada pembaca khususnya para pencinta mode. Pembaca dari kalangan lain memerlukan wawasan khusus tentang mode untuk dapat memahami makna dari register run way ini.

Data register keempat adalah nguri-uri. Register ini didapatkan dari artikel koran Harian Tribun Jogja. Penulis artikel menulis register dalam bahasa Jawa dengan asumsi bahwa pembaca artikelnya adalah orang Jawa yang telah paham makna kata tersebut. Namun, pembaca harian tersebut bukan hanya orang Jawa, orang dengan latar bahasa daerah berbeda banyak yang membaca artikel ini. Secara sadar, nampak penulis memberi petunjuk makna dalam kalimatnya. Hanya saja hal tersebut belum dapat memastikan semua pembaca dari latar bahasa yang berbeda dapat memahami register tersebut. Kalimat selengkapnya adalah.

Metode tebak makna yang dilakukan oleh pembaca yang belum paham makna dari kalimat tersebut. Hal ini akan menimbulkan penafsiran yang beragam. Semestinya, penulis memberi arti register tersebut. Sehingga substansi dari artikel tersebut dapat sampai kepada semua lapisan pembaca.

Data register berikutnya adalah extra time dan injury time. Kedua register ini diambil dari artikel dalam Harian Tribun Jogja. Dari tampilan gambar dan kalimat lengkap yang dipaparkan penulis, para pembaca dapat menyimpulkan bahwa kedua register tersebut adalah register dalam sepak bola yang bermakna tambahan waktu atau perpanjangan waktu dan detik-detik terakhir pertandingan. Register tersebut adalah:

Fungsi informasi yang diusung oleh kedua register tersebut secara umum dapat dipahami oleh pembaca. Karena keduanya telah biasa didengar bukan hanya pada pertandingan sepak bola namun juga pada kegiatan-kegiatan pertandingan olah raga lainnya.

Data register selanjuttnya adalah Aa’. Ini adalah register dari bahasa Sunda yang berarti kakak atau mas (dalam bahasa Jawa). Register ini munncul sebagai register pribadi dari narasumber berita. Namun penggunaan register ini berorietasi petutur, dimana yang dimaksud adalah orang yang berasal atau berdomisili di Bandung. Kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut:

Berikutnya adalah register ending. Diambil dari salah satu artikel dalam Tabloid Nyata. Register ini adalah bahasa Inggris namun, dewasa ini register ini sudah bukan lagi milik kalangan tertentu. Hampir semua kalangan memahami substansi dari register ini dan menggunakannnya dalam percakapan sehari-hari.

Dari kalimat lengkapnya di atas, nampak bahwa penulis menuliskan register tersebut secara miring berarti bahasa Asing atau istilah yang bukan asli bahasa Indonesia.

Sama halnya dengan regsiter chemistry yang diambil juga dari tabloid Nyata. Secara bunyi, register ini bukan lagi hal asing bagi telinga bagi pemakai bahasa. Namun, dari segi tulisan, register ini masih asing. Maklum saja, register ini adalah bahasa Inggris. Register chemistry ini ditampilkan dalam kutipan bagian artikel sebagaimana berikut ini:

Register berikutnya diambil dari tabloid Nyata yakni public liability insurance. Register dalam bahasa Inggris ini tentunya tidak dapat dipahami secara utuh oleh semua pembaca terutama yang tidak memiliki wawasan atau pengetahuan tentang istilah pajak atau keuangan atau bahasa Inggris. Sejogianya, penulis memberikan makna setelah penulisan register tersebut agar fungsi informatif dari register dapat maksimal. Kalimat lengkapnya dapat dibaca sebagaimana berikut.

Register dari bahasa Inggris namun sudah sangat umum bagi masyarakat Indonesia khususnya adalah caesar. Register ini berhubungan dengan ibu hamil dan proses melahirkan. Register sejenis ini tidak memerlukan lagi pemaknaan lebih lanjut dari penulis atau penutur karena register ini bukan lagi milik kalangan tertentu.

Dari kalimat lengkapnya didapatkan juga register down. Sama dengan caesar kedua register tersebut telah dipahami secara luas oleh masyarakat pembaca. Sehingga pengguna kedua register tersebut dalam artikel ini tidak menghambat informasi yang sesungguhnya sampai dan dipahami oleh para pembaca.

Data register terakhir yang ditampilkan dalam pembahasan penelitian ini adalah honeymoon dan babymoon. Dari dua register yang ditampilkan dalam artikel dalam tabloid Nyata ini register babymoonlah yang masih harus mendapat penjelasan makna lebih lanjut oleh penulis. Karena register ini masih tergolong baru di kalangan pengantin baru. Hal ini disadari oleh penulis, dapat dibaca dalam artikelnya secara lengkap, register ini dijelaskan secara lengkap. Ini memungkinkan para pembaca mendapatkan informasi yang utuh sekaligus baru. Kutipan kedua register tersebut ditampilkan di bawah ini:

Beberapa contoh register yang ditampilkan dalam pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena penggunaan register dalam wacana tulis sudah sangat banyak meliputi semua bidang. Register sebuah kalangan tidak lagi ditabukan dipakai pada media massa publik. Dalam hal kreativitas berbahasa ini sangat relevan dengan prinsip sosiolinguistik yakni keragaman bahasa muncul karena salah satunya disebabkan oleh kondisi sosial masyarakat bahasa. Indonesia adalah negara multilingual, multiculture dan terbuka. Hal ini memungkinkan perkembangan bahasa khususnya register.

D. Simpulan

Berdasarkan analisis wacana tulis pada beberapa artikel dan pembahasannya di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan register dalam bahasa tulis khususnya dalam artikel-artikel publik dalam koran sudah sangat banyak. Hampir semua artikel dari berbagai topik atau tema memunculkan register masing-masing. Hal ini tentunya akan memberikan tambahan informasi dan wawasan bagi para pembaca jika penulis dapat menampilkan sebuah register secara utuh. Maksudnya, sebuah register dilengkapi dengan makna yang dimaksudkan sesuai dengan konteks kalimat yang diikutinya.

Selain itu, pembahasan ini juga menggambarkan pula kondisi sosio-linguitik dari penulis dan pembaca koran tersebut. Dimana ada beberapa penulis dari artikel yang dibahas belum memiliki kepekaan pada kompetensi pembaca media dimana artikelnya dimuat. Seyogianya, seorang penulis memahami kondisi kompetensi wawasan dari segmen pembaca media yang akan memuat artikelnya. Ini penting, agar informasi yang disampaikan dapat dicerna secara utuh oleh pembaca dan secara khusus pembaca akan menyukai media tersebut.

Daftar Pustaka

  • Allen, W S. 1973. The Linguistic Study of language. Dalam Steven. P.D. (ed). Five Inaugural Lectures. OUP.
  • Arifin, Bustanul dan Abdul Rani. (2000). Prinsip-prinsip analisis wacana. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  • Chaer, Abdul. (2007). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Chaer, A.dan Leoni Agustina. (1995). Suatu pengantar sosioinguistik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • Cook, Guy. (1989). Discourse. Oxford: Oxford University Press.
  • Dell Hymes. (1973). Foundations in sociolinguistics: an ethnographic approach Philadelphia: University of Pensylvania Press.
  • Ferguson, C. A. (1971). Language structure and language use. Stanford: Stanford University Press.
  • Halliday, M.A.K. (1994). On language and linguistic. New York: Continuum.
  • J.B. Pride dan J. Holmes. (1972). Sociolinguistics. England: Penguin.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. (Edisi 4). (2008) Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Mahsun. (2013). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Press.
  • Stubbs, Michael. (1983). Discourse analysis. Chicago: The University at Chicago Press.
  • Trudgill. (1983). Sociolinguistic: an introduction to language and society. rev. edn. Harmondsworth, England: Penguin Books.

Related Post

Kelebihan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Sebagian orang atau para calon mahasiswa mungkin masih ada yang memiliki anggapan miring terhadap jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Hal ini karena ...
Penerapan Kohesi, Koherensi dan Referensi dalam Ka... Suatu teks memiliki wacana jika unsur kohesi, koherensi, dan referensi terdapat pada suatu teks. Untuk mengetahui unsur – unsur tersebut maka perlu me...
Memahami Arti Linguistik Sinkronis dan Linguistik ... Secara umum pemahaman tentang linguistik dimaknai sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Para pakar linguistik j...
Campur Kode dan Tenggelamnya Bahasa Indonesia Semakin hari semakin terasa tenggelamnya bahasa Indonesia. Banyak penutur baik di media sosial, acara tv, Youtube, bahkan masyarkat umumpun sekarang l...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *