Tolok Ukur Teknik Penerjemahan Peminjaman Naturalisasi

By | September 22, 2017

Teknik penerjemahan dikenal juga dengan prosedur penerjemahan. Teknik berarti membicarakan cara atau strategi yang digunakan oleh penerjemah untuk menerjemahkan suatu teks. Misalkan kita dihadapkan pada suatu teks terjemahan maka dari teks tersebut dapat dianalisis teknik – teknik penerjamahan apakah yang dia gunakan untuk menerjemahkan teks tersebut.

Untuk menjustifikasi teknik yang digunakan tentu harus berdasarkan definisi dan contoh yang sudah diungkapkanoleh para ahli seperti Vinay, Molina, Albir, Newmark, Venuty, dan beberpaa ahli lainyal.  Setiap ahli memiliki jumlah teori teknik penerjemahan dengan jumlah yang berbeda – beda, tetapi semuanya mengakui adanya teknik penerjemahan yang sama yaitu salah satunya teknik penerjemahan peminjaman (borrowing technique).

Teknik penerjemahan peminjaman

Teknik peminajaman (borrowing technique) adalah teknik peminjaman dengan mengungkap kembali bahasa sumber (BSu) pada bahasa sasaran (BSa) (Molina & Albir, 2000:520). Teknik penerjemahan peminjaman juga dianggap sebagai teknik penerjemahan yang paling mudah karena hanya menggunakan kembali bahasa sumber, akan tetapi bukan berarti karena mudah bisa saja dierapkan pada semua teks. Teknik penerjemahan peminjaman adalah solusi untuk mengatasi adanya keterbatan leksikal (lexical gap) pada bahasa sasaran.

Teknik penerjemahan peminjaman sendiri menurut Molina & Albir dibagi dua yaitu teknik penerjemahan peminjaman murni (pure borrowing) dan teknik penerjemahan naturalisasi (naturalized borrowing). Pada tekni penerjemahan murni bahasa sumber digunakan pada bahsa target tanpa ada perubahan gramatikal dan pengucapan, sedangkan pada peminjaman naturalisasi ada modifikasi baik pada gramatikal, morfologi, dan morfologinya.

Teknik penerjemahan peminjaman naturalisasi

Teknik penerjemahan peminjaman murni bisa dengan mudah ditemukan karena kesaman leksikal, akan tetapi bagaimana dengan penerjemahan naturalisasi (naturalized borrowing). Seringkali saya melihat contoh – contoh hasil temuaan penerjemahan naturalisasi yang janggal.

Pada contoh frasa “important information” diterjemahkan menjadi “informasi penting”. Leksikal “informasi” dikategorikan menjadi penerjemahan naturalisasi. Apakah anda yakin dengan kategori ini? pasalnya menurut definisi diatas bahwa penerjamahan teknik penerjemahan digunakan untuk mengatasi keterbatasan leksial, sedangkan jika leksikal tersebut telah terserap dalam bahasa Indonesia, apakah leksikal tersebut masih tetap dikategorikan sebagai penerjemahan peminjaman naturalisasi?

Tolok ukur apakah suatu leksikal telah terserap atau belum dalam hal ini sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia atau belum tentu dapat dibuktikan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI adalah kamus yang merangkum semua informasi leksikal yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan perkembangan bahasa dan istilah ilmu pengetahuan yang diperbarui setiap tahunya berdasarkan penelitian, temuan, dan bersumber dari kamus lain (KBBI, 2008:xxxi). KBBI edisi ke empat tahun 2008 cetakan ke 10 September 2016 memuat lebih dari 90.000 lema.

Jika suatu lexsikal belum tertulis dalam KBBI maka dapat dikategorikan sebagai teknik penerjemahan naturalisasi, jadi bukan karena ada kemiripan dengan unsur asing langsung dapat dikatakan sebagai naturalisasi. Lebih dari itu, sering kali dalam penjelasan KBBI  bisa saja suatu leksikal sudah tertulis tetapi memiliki makna yang berbeda dengan istilah yang dimkasudkan. Sebagai contoh suatu leksikal pos akan didefiniskan dalam berbagai disiplin ilmu atau situasi. Definisi pos akan berbeda antara ranah umum dan ranah eletkronik. Pos bisa bermakna tempat penjaggan (n) dan penggunaan jejaring komputet untuk mengirim dan menerima pasan (elektronik). Secara singkat tolok ukurnya ada dua yaitu:

  1. Telah tertulis dalam KBBI
  2. Telah terdefinisikan sesuai dengan disiplin ilmu yang diacu yang ada dalam KBBI

Oleh sebab itu KBBI juga dapat digunakan sebagai instument validasi setelah teknik terjemahan peminjaman dikumpulkan.

Saya berasumsi bahwa, leksikal “system” yang diterjemahkan menjadi “sistem” tadinya mungkin dikategorikan menjadi penerjemahan naturalisasi saat kata “system” baru pertama kali diperkenalkan di Indonesia dan belum tertulis di KBBI, tetapi sekarang saya rasa “system” bukan lagi teknik naturalsiasai.

Hal ini lah yang perlu menjadi perhatian bagi peneliti dalam menentukan kategorisasi teknik penerjemahan peminjaman naturalisasi yang lebih pelik dari pada teknik penerjemahan murni. Jadi KBBI menjadi tolak ukur menentukan apakah suatu leksikal merupakan peminjaman atau bukan.

Bagaimana menurut kamu? Apakah KBBI saja cukup?

Referensi:

2 thoughts on “Tolok Ukur Teknik Penerjemahan Peminjaman Naturalisasi

  1. Nava

    Selain Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat kamus istilah dari disiplin ilmu lain yang mengandugn penjelasan suatu leksikal. Leksikal tersebut bisa saja tidak terdapat dalam KBBI. Apakah Kamus Istilah tersebut dapat jadikan tolok ukur pada teknik penerjemahan peminjaman naturalisasi?

    Reply
    1. Linguistik Id Post author

      Selain KBBI untuk menentukan tolok ukur apakah suaut istilah sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia atau belum dapat juga di ukur dengan buku Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing. Kenapa buku ini? karena buku ini terbitkan oleh Pusat Bahasa jadi saya rasa juga bersifat resmi sebagai acuan tolok ukur penerjemahan naturalisasi. Akan tetapi dalam buku ini hanya menjelaskan pengindonesiaan istilah atau transformasi istilah tanpa ada penjabaran secara khusus dari istilah tersebut. kalau istilah yang diindonesiakan masih menggunakan kosa kata umum mungkin sepintas masih bisa dipahami, akan tetapi jika istilah indonesia yang digunakan juga terdengar asing maka akan lebih sulit untuk mendfinisikan apakah istilah yang maksud sesuai dengan pengertian terjemahan yang kita acu

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *