Sekolah Tingkat SMP Sebagai Awal Munculnya Bakat Sastrawan

By | Mei 19, 2017

Bakat seorang sastrawan biasanya mulai terlihat ketika masih sekolah ditingkat SMP, karena dari situlah kreasinya bisa dikembangkan. Disekolah SMP tersedia sebuah mading atau majalah dinding yang berisi tentang kumpulan tulisan dari para pelajar seperti puisi, cerpen, gambar serta karya sastra lainnya.

Para pelajar  diberi kesempatan untuk membuat tulisan atau karya seni sastra lain agar bisa ditampilkan pada mading sekolahan. Tentu saja para pelajar yang memiliki hobi dan minat tentang  dunia seni sastra terutama dalam hal tulis menulis, bisa menyalurkan bakatnya agar bisa berkembang dan lebih maju.

Pihak yang paling utama adalah guru dan pengurus mading, yang tentunya bisa menjadi penyemangat bagi para pelajar untuk berkreasi dalam mengisi mading. Sarana dan prasarana dalam sekolah ini memang digunakan agar pelajar bisa berkembang salah satunya yaitu mading dalam bidang sastra.

Jika para guru bisa memberikan penjelasan tentang manfaat yang bisa diperoleh bagi seniman dimasa depan, maka banyak pelajar yang akan tergugah hatinya. Kemudian akan tumbuh semangatnya untuk giat belajar menulis dan melatih kemampuan dibidang seni sehingga semakin rajin untuk berkreasi.

Banyak sekali para penulis yang mengemukakan bahwa mereka bisa mengembangkan bakatnya ketika duduk dikelas SMP dan aktif membuat karya tulis untuk mading. Hal ini karena remaja usia SMP memang masih bisa fokus untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai dalam mengisi hari-harinya.

Namun banyak sekali sekolah-sekolah dinegara kita yang belum mampu menggunakan mading sebagai penyalur bakat seniman dengan maksimal. Karena banyak guru yang mengajar mata pelajaran seni belum menyadari akan hal ini dan tingkat kepeduliannya memang rendah bagi masa depan para pelajar.

Selain itu, ruang mading yang tersedia tempatnya juga sangat terbatas dan tentunya para pelajar yang bisa berkontribusi dalam mading jumlahnya sedikit. Hal lainnya, karena banyak sekali mading yang dijejali oleh pengumuman sekolah atau hal lainnya yang tentunya membuat mading makin sesak saja.

Dalam hal ini diperlukan ruang mading yang lebih luas agar semakin banyak kesempatan bagi pelajar untuk menyumbangkan kreasinya dalam hal menulis. Karena tanpa adanya rangsangan bagi para pelajar untuk berkreasi, maka mereka akan sulit untuk mengeluarkkan ekspresinya dalam bidang seni.

Jika para pelajar sudah tertidik untuk mengeluarkan ekspresinya dengan bahasa seni, tentu saja bakat seninya akan cepat berkembang dan semakin mudah untuk bisa menjadi seniman. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa seni, namun tentu saja bakat seni yang dimiliki berbeda-beda.

Akan lebih baik lagi jika sebuah sekolahan mau menerbitkan majalah bulanan, surat kabar atau bulletin sekolah. Sehingga makin besar peluang bagi para pelajar untuk menunjukkan bakat seninya. Selain itu  memiliki manfaat untuk bisa menjadi media komunikatif bagi para pelajar dan semua guru disekolah.

 

 

 

 

Related Post

Sejarah Terbentuknya Sastrawan angkatan 45 Sastrawan angkatan 45 bisa dikatakan sebagai era kemajuan sastra puisi karena banyak lahir para penyair yang memiliki karya luar biasa. Salah satu pui...
Perjalanan Sastra Indonesia dalam Kancah Politik Banyak sekali karya sastra yang mengambil tema dari permasalahan yang dihadapai masyarakat atau rakyat Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa pada za...
Perkembangan Sejarah Sastra Indonesia Perkembangan sastra di Indonesia memang sudah dimulai sejak zaman dahulu, bahkan sekitar tahun 150 Masehi dari masa kerajaan Salakanegara. Hal ini dib...
Pengaruh Bahasa Asing Bagi Bahasa Indonesia Masuknya budaya barat atau proses Westernisasi kata memang ditakuti oleh para ahli bahasa dan dikhawatirkan bisa mengikis kualitas bahasa Indonesia. H...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *