Bagaimana Sikap Guru Bahasa Inggris terhadap Murid

By | Oktober 10, 2016

Guru merupakan ikon terpenting dalam dunia pendidikan. Dengan adanya guru maka akan terciptalah insan yang berpendidikan, yang dapat membangun bangsa ini untuk menjadi lebih maju. Dalam hal ini guru di tuntut untuk memahami siswanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Serta guru juga harus bisa menyikapi sikap dan tingkah laku siswa dengan berbagai macam karakter dan dapat mengatasinya.

bagaimana-sikap-guru-bahasa-inggris-terhadap-murid

Gambar: Guru mengajar di kelas

Sebenarnya resep berikut tidak hanya berlaku bagi guru bahasa Inggris, namun dapat juga berlaku bagi guru mata pelajaran apapun. Dalam pendidikan di sekolah lanjutan, atau bahkan di tingkat universitas, munurut Jodi Rusmajadi (2010: 11) terdapat 3 unsur penting yaitu lecturer/teacher (dosen/guru), para murid (student) dan lembaga pendidikan itu sendiri (institusional).

Seoran guru yang berpengalaman memahami, bahwa di kelas itu ada murid yang pendiam dan rajin. Tetapi ada juga yang suka mengganggu. Jodi Rusmajadi (2010: 12) mengatakan bahwa dalam kenyataannya, sikap mengganggu (trouble maker) seorang murid bisa saja disebabkan hal-hal berikut:

1. Waktu belajar (Time of day)

Belajar terlalu lama tanpa istrahat, akan melelahkan murid-murid dan ini akan mengurangi kosentrasi mereka. Kalau pelajaran dimulai sebelum makan siang, biasanya perhatian murid-murid akan berkurang., karena mereka ingat sebentar lagi akan makan siang. Jika kelas dimulai setelah makan siang, mereka kekenyangan. Seorang guru yang baik, melalui koordinasi dengan lembaga pendidikannya, harus mempertimbangkan semua faktor tersebut.

2. Sikap siwa (The student’s attitude)

Sikap murid-murid terhadap guru dan pelajaran yang diajarkan ikut berperan dalam menegakan disiplin. Untuk alas an-alasan tertentu, ada sebagian pelajar lanjutan, yang memiliki sikap “permusuhan” terhadap kelas bahasa Inggris dan terhadap guru bahasa Inggrisnya. Dengan demikian guru harus berusaha agar kelasnya menarik bagi murid-muridnya. Kalau murid senang dan penyajian pelajaran menarik, persoalan lainnya dapat diselesaikan.

3. Keinginan yang harus diperhatikan (A desire to be noticed)

Secara psikologis, murid-murid adalah remaja. Mesa remaja adalah satu masa yang sulit dan biasa mereka ingin diperhatikan atau diakui keberadaannya. Biasanya sekali dua kali pertemuan di kelas, seorang guru sudah dapat mengetahui siapa di antara muridnya yang mempunyai sifat ”disruptive”, agar dia mendapat pengakuan dari teman-temannya atau gurunya. Oleh karena itu guru jangan cepat menghukum murid yang demikian. Yang lebih penting, salurkan sikap murid tersebut dan libatkan dia dalam kegiatan di kelas, khususnya dalam aktivitas yang menyangkut bahasa Inggris.

4. Dua sekawan (Two company)

Maksud two’s company adalah bahwa dua murid yang disruptive (suka mengacau), lebih “merusak” suasana kelas dibandingkan dengan seorang siswa yang mengganggu. Dua kawan yang mempunyai sifat disruptive akan mempengaruhi kelas secara keseluruhan. Jika itu terjadi, guru harus cepat bertindak, misalnya kedua murid tersebut dipisahkan/dijauhkan tempat duduknya. Atau pindahkan seorang di antaranya untuk duduk di barisan depan.

Referensi

Rusmajadi, Jodi. (2010). Terampil berbahasa inggris: Beberapa tips mengajar bahasa inggris. Jakarta: PT Indeks Jakarta.

Bagaimana Menurutmu?

Related Post

Pentingnya Pengajaran Menyimak dalam Bahasa Inggri... A. Pendahuluan Menyimak merupakan salah satu cara yang tradisional untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Walaupun keberadaannya sering kal...
Language Teacher Education Introduction Language teacher education – of what should it consist? Some would argue that it is largely an issue of providing teachers with successf...
The National Curriculum in English In July 1991, Kenneth Clarke, Secretary of State for Education, removed from their posts the two chairmen and chief executives previously in charge of...
Learning Sign Language as A Second Language Sign languages are natural languages. This means that sign languages are often learned as second languages just like spoken languages. Unlike spoken l...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *