Penyair Jawa Kuno Menggunakan Bahasa Kawi

By | April 27, 2017

Banyak yang mengatakan bahasa Kawi adalah bahasa jaman dahulu yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari pada masyarakat Jawa. Hal ini memang benar, namun kurang tepat karena sejak dahulu masyarakat Jawa sudah memiliki beberapa macam bahasa.

Masyarakat Jawa pada masa dahulu sudah menggunakan beberapa macam bahasa seperti bahasa Jawa kuno atau Kawi, Jawa Tengahan dan Jawa Baru. Dan kebanyakan bahasa yang digunakan masyarakat Jawa saat ini adalah bahasa Jawa baru yang merupakan pembauran antara bahasa Kawi dan Tengahan.

Hal ini membuat bahasa Jawa sangat kaya akan kata dan makna. Banyak benda atau nama serta istilah yang bisa dijelaskan cukup dari satu kata saja tanpa perlu dua kata ataupun membutuhkan banyak kata. Sepertinya tidak ada bahasa didunia yang melebihi kekayaan dari bahasa Jawa.

Dalam hal ini kita bisa contohkan tentang kata ‘’bau’’ dalam bahasa Jawa

Bau air kencing = Pesing

Bau ikan = Amis

Bau belum mandi = Prengus

Bau keringat = Kecut

Untuk satu kata ‘’makan’’, ada beberapa kata yang bisa di gunakan.

Makan = mangan, nedo, dahar, maem, mbadog, nyekek, nothol.

Mengapa bahasa Jawa begitu kaya dengan beragam kata sehingga sepertinya kita tidak akan kehabisan kata untuk menyebut nama sesuatu dan tidak perlu dengan mengungkapkan banyak suku kata. Hal ini memang menjadi tanda tanya besar sampai sekarang mengapa bahasa Jawa bisa sekaya itu.

Pada zaman dahulu, sekitar Abad ke 6 dan seterusnya ketika tanah jawa banyak sekali berdiri kerajaan-kerajaan kecil ataupun besar. Penggunaan bahasa dikalangan masyarakat sudah berbeda-beda. Dalam lingkungan kerajaan menggunakan bahasa Kromo Inggil sebagai bahasa yang halus atau bahasa negara.

Bahasa Kromo Inggil atau Jawa Tengahan dijadikan bahasa resmi kenegaraan dan semua orang yang berada dilingkungan kerajaan diharuskan menggunakannya. Masyarakat biasa yang berbicara dengan petinggi kerajaan atau orang yang dihormati seperti Lurah dan ulama juga menggunakan Kromo Inggil.

Sedangkan ditengah masyarakat biasa, orang-orang menggunakan bahasa Jawa biasa atau baru untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa Jawa baru dianggap sebagai bahasa yang agak kasar dan bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan siapa saja di luar kerajaan atau dipasar-pasar dan desa-desa.

Hal ini membuat banyak orang akhirnya bisa menggunakan bahasa Jawa biasa dan bahasa Kromo Inggil karena kebiasaan menggunakan kedua bahasa tersebut. Hal ini secara otomatis bisa dilakukan banyak orang Jawa tanpa harus melalui belajar disekolah dan hanya dari sebuah kebiasaan saja.

Sedangkan para penyair dan kaum cendekiawan menggunakan bahasa Kawi untuk menulis didalam lontar ataupun media lainnya. Bahasa Kawi lebih halus sehingga bisa ditata agar kalimat bisa enak dibaca dan nyaman. Bahasa Kawi memang untuk dibacakan dengan cara bernyanyi atau tembang.

Masyarakat biasa memang jarang yang mengerti dan menggunakan bahasa Kawi karena hanya kaum terpelajar saja yang biasa menggunakannya. Bahasa Kawi memang menjadi spesial, namun karena tidak banyak yang menggunakannya sehingga bahasa ini sepertinya sudah tergerus oleh zaman.

Related Post

Perbedaan Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru Balai Pustaka dibuat pada tahun 1908 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai sarana penerbitan buku sekolah dan novel atau cerita-cerita daerah Indones...
Kelebihan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Sebagian orang atau para calon mahasiswa mungkin masih ada yang memiliki anggapan miring terhadap jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Hal ini karena ...
Pengaruh Media Sosial Bagi Dunia sastra Indonesia Esai merupakan sebuah tulisan yang menarik karena berisi opini atau pandangan dari seorang penulis tentang suatu hal atau permasalahan. Esai juga lebi...
Perkembangan Novel Anak-anak di Indonesia Pada dasarnya menulis novel untuk cerita anak-anak memang lebih mudah karena tidak memerlukan alur penulisan yang sistematis. Hal ini karena segmen pe...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *