Pengertian Wacana dan Analisis Wacana

By | Oktober 17, 2016

Wacana merupakan salah satu kajian dalam ilmu linguistik yakni bagian dari kajian dari pragmatik. Wacana memiliki kedudukan lebih luas dari klausa dan kalimat, karena wacana mencakup suatu gagasan dan konsep suatu teks. Wacana dalam bahasa Inggris disebut discourse diartikan sebagai ungkapan dalam suatu interaksi komunikasi.

A. Pengertian Wacana

Wacana merupakan rangkaian ujaran yang untuh pada suatu tindak komunikasi yang teratur dan sistematis yang mengandung gagasan, konsep, atau efek yang terbentuk pada konteks tertentu (Foucault, 1972:48-49). Setiap tindak komunikasi merupakan bagian dari wacana, karena komunikasi melibatkan penyampai pesan, penerima pesan, dan pesan atau kesatuan makna yang untuh yang ingin disampaikan.

Wacana dapat berwujud lisan dan tulis yang disebut sebagai teks dalam wacana. Wacana lisan berupa ujaran baik dalam bentuk teks lisan yang diucapkan. Contoh wacana lisan yakni pada monolog, dialog, pidato, percapan, wawancara, dan ujaran lainya yang dapat didengar oleh penerima. Wacana tulis berupa teks tertulis yang dapat dibaca. Contoh wacana tulis dapat dijumpai pada selebaran, poster, koran, majalah, buku dan teks tertulis lain yang mengandung unsur kebahasaan. Dapat disimpulkan bahwa wacana bukan saja dalam bentuk kalimat dan pargraf yang panjang tetapi dapat berupa satuan lingual yang lebih kecil seperti kata, frasa, dan klausa.

Suatu kata atau frasa bisa saja mengandung wacana, asalkan memenuhi persyaratan sebagai wacana. Berdasarkan definisi diatas suatu tek dapat dikatakan wacana jika memenuhi persyaratan atau ciri – ciri sebagai berikut:

  1. Topik, topik merupakan pernyataan pendek, tapi berisi hal yang lebih luas sehinggga dapat maknai oleh pendengar dan pemabaca.
  2. Pengungkap topik, peserta tutur atau penulis melakukan tindak tutur tertentu sebagai bentuk ekspresi.
  3. Kohesi dan koherensi, kohesi merupakan kepaduan antara unsur sintaksis yang satu dengan yang lain termasuk konteks dalam satu wacana, sedangkan koherensi terbentuk rekaman kebahasaan yang dari suatu peristiwa komunikasi yang utuh secara makna.
  4. Tujuan (fungsi), suatu wacana dapat berfungsi informatif, emotif, sikap, persuatif, dan asosiatif.
  5. Keteraturan, memiliki keteraturan kohesi maupun keteraturan dalam logika yang masuk akal baik dalam kata, frasa, klausa, kalimat, maupun alenia.
  6. Teks, ko-teks, dan konteks. Kontek adalah situasi yang melingkupi teks baik situasi pembicaraan, pembicara, pendengar, waktu, topik, tempat, adegan, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan media. Ko-teks adalah, kesejajaran, koordinatif, dan hubungan teks dengan teks lain.

Pada kasus tertentu terdapat ratusan iklan shampo berbahasa Jerman. Setelah dipilah berdasarkan persyaratan wacana diatas ternyata hanya beberapa puluh iklan saja yang mengandung wacana. Hal serupa juga dapat kita lihat pada tagline bertuliskan “piye kebare? penak jamanku tho??” dengan gambar mantan Presiden Soeharto yang biasa kita jumpai pada truk, mobil, sepeda motor, dan tempat umum.

pengertian-wacana-dan-analisis-wacanaApakah tagline seperti pada poster diatas dapat dikatakan sebagai sebuah wacana? Tagline poster tersebut dapat dikatan sebagai wacana jika memenuhi syarat – syarat wacana.

  1. Topik: tagline diatas memenuhi topik yakni berupa pernyataan yang dikatikan dengan presiden Soeharto pada waktu itu.
  2. Pengungkap topik; tagline tesebut diungkapan oleh penulis yang merasa rindu atau ingin suatu kehidupan seperti pada masa Soeharto
  3. Kohesi dan koherensi: keterkaitan atau perbadingan antara kehidupan sosial ekonomi antara masa pemerintah Soeharto dengan masa sekarang.
  4. Tujuan (fungsi); teks ini bertujuan sebagai emotif bahwa kehidupan pada masa presiden Soeharto diasumsikan lebih sejahterera.
  5. Keteraturan: secara logika dapat pahami apa yang maksud dengan teks tersebut.
  6. Konteks dan Ko-teks: Konteksnya sangat jelas yakni sebuah teks yang disampaikan oleh mantan presiden Soeharto.

Berdasarkan syarat- syarat diatas maka, teks tertulis diatas dapat dikatan sebagai wacana walaupun hanya mengandugn dua klausa yang singkat, karena memenuhi persyartan sebagai wacana.

B. Pengertian Kajian Wacana

Suatu kajian berarti melakukan studi, tinjauan, analis, proses terhadap suatu subjek. Wacana adalah cara berfikir dan pemahaman tentang susuatu yang ada (Jorgensen dan Phillips, 2002: 1). Pengertian kajian wacana adalah analisis unit linguistik terhadap penggunaan bahasa lisan maupun tulis yang melibatkan penyampai pesan (penutur atau penulis) dengan penerima pesan (pendengar atau pembaca) dalam tindak komunikasi (Slembrouck, 2003: 1). Kajian wacana merupakan bagian dari studi linguistik tentang struktur pesan dalam suatu komunikasi atau telaah mengenai aneka bentuk dan fungsi linguistik dalam kajian wacana.

Secara singkatnya, kajian wacana membahas tentang menafsirkan suatu teks yakni memahami apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh penyampai pesan, mengapa harus diampaikan, dan bagiamana pesan tersusun dan dipahami serta motif dibaik teks. Selain itu, melalui analisis wacana dapat diketahui apakah sebuah teks mengandung wacana atau tidak. Analisis wacana dapat dicontohkan dengan menafsirkan empat teks dibawah ini.

a. Dilarang berjualan di sini (di papan pengumuman)

b. Wah, indah benar lukisan yang dibuat olehnya (dalam dialog)

c. Awas ada anjing galak (tulisan di atas pintu pagar)

d. Bunga itu kukirimkan padanya (dalam sebuah novel)

Ke empat klausa diatas merupakan teks, tetapi hanya (a) dan (c) saja yang bisa disebut wacana. Jika dianalisis teks (a) dan (c) bisa disebut wacana karena mengandung kontek yang jelas yakni dipapan pengumuman dan di pintu pagar. Memiliki kesatuan makna yang utuh yakni berupa peringatan dan larangan, pembaca akan dengan mudah menafsirkan pesan yang disampaikan oleh penulis.

Sebaliknya teks (b) dan (d) bukan merupakan wacana, walaupun berada pada kontek yang jelas tetapi tidak ada kesatuan makna yang jelas yakni pada morfem “nya” dalam kalimat (b) tidak dan “ku” dan “nya” dalam kalimat (d) tidak mengandung koherensi yang jelas sehingga pembaca akan kesulitan menafsirkan siapa yang menerima pesan tersebut. Oleh sebab itu kesatuan maknanya tidak utuh.

Suatu tindak komunikasi berusaha untuk menyampaikan pesan, akan tetapi jika pesan yang berusaha disampaikan tidak ada maka terjadilah kegagalan. Melalui analisis wacana dapat digunakan untuk mengetahui kandungan pesan sebuah teks.

Referensi

  • Foucault, M. (1972). The Archeology of Knowledge and The Discourse on Language. London: Tavistock Publication.
  • Jørgensen, Marianne dan Phillips, Louise. 2002. Discourse Analysis as Theory and Method. SAGE Publications
  • Slembrouck, Steff. 2009. What is Meant by Discourse Analysis. Belgium: Ghent University.

Related Post

Fenomena Wacana dalam Praktek Sosial, Ideologi, Ke... Wacana merupakan bagian dari praktek sosial yakni komunikasi. Komunikasi antar pengguna bahasa selalu melibatkan wacana. Setiap penyampai pesan memili...
Apakah Manfaat Ilmu Linguistik Setiap ilmu, betapapun teoritisnya, tentu mempunyai manfaat praktis bagi kehidupan manusia. Begitu juga dengan linguistik. Kita bisa bertanya manfaat ...
The Critical in Applied Linguistics The emergence of these various critical projects has been met with mixed responses. For some, critical applied linguistics is little more than a criti...
Research Methods for Applied Linguistics: Scope, C... The Scope of Applied Linguistics Research Over the past two decades, books on applied linguistics research have often failed to define the term resea...

2 thoughts on “Pengertian Wacana dan Analisis Wacana

    1. Linguistik Id Post author

      Marka jalan secara umum menurut saya ada tiga yaitu 1) marka jalan yang berupa simbol, 2) marka jalan dengan tulisan, dan 3) marka jalan yang berupa simbol dan tulisan. Membicarakan wacana adalah mengkaji fenomena linguistik, jadi marka jalan yang tidak mengandung ada tulisanya dan hanya berupa simbol tidak dapat dikatakan sebagai wacana.

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *