Pengaruh Bahasa Asing Bagi Bahasa Indonesia

By | April 30, 2017

Masuknya budaya barat atau proses Westernisasi kata memang ditakuti oleh para ahli bahasa dan dikhawatirkan bisa mengikis kualitas bahasa Indonesia. Hal ini memang bisa saja terjadi, namun sepertinya hal itu bisa terealisasi dan memerlukan waktu sampai ribuan tahun lamanya

Hal ini sudah terbukti pada zaman dahulu ketika negara kita dijajah Belanda selama lebih dari 350 tahun. Walaupun Indonesia dijajah selama ratusan tahun, namun bahasa Belanda tidak bisa menguasai bangsa ini. Pertanyaannya adalah, apakah bahasa Belanda tidak bisa di terima oleh bangsa Indonesia ?

Padahal negara-negara lainnya yang pernah dijajah seperti Filipina dan negara-negara di Amerika latin, bahasa penjajah bisa menguasai dan menjadi alat komunikasi yang digunakan sehari-hari. Tentunya ini menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi bangsa Indonesia pada khususnya.

Mungkin bangsa Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak bisa dikuasai bahasa penjajah walaupun sudah pernah dikuasai penjajah selama ratusan tahun. Kenyataannya bahasa Belanda tidak berpengaruh besar pada bahasa yang digunakan sehari-hari pada masyarakat Indonesia.

Mungkin ada beberapa kata dari bahasa Belanda yang diadopsi kedalam bahasa Indonesia, namun tidak mendominasi keseluruhan bahasa dan hanya sebagian kecil saja. Padahal banyak sekali para pemuda yang belajar di Belanda, namun tetap tidak berpengaruh pada bahasa asli yang digunakan.

Pada dasarnya faktor utama yang menjadikan bahasa Belanda diterima atau tidak oleh masyarakat Indonesia adalah dalam bidang pendidikan. Memang, Belanda sering mendirikan sekolah untuk anak pribumi terutama kaum ningrat, namun sekolah yang didirikan tidak pernah dilakukan dengan serius.

Pihak Belanda selalu melakukan perubahan kurikulum pada sistem pendidikan disekolah yang mereka dirikan karena faktor dana. Belanda tidak bisa mengalokasikan dana karena semua kekayaan yang diambil dari tanah Indonesia, seluruhnya dikirimkan kepada kerajaan Belanda.

Sebenarnya pemerintah Belanda tidak mau mendidik anak-anak pribumi untuk menjadi kaum intelek. Mereka hanya mau mengambil keuntungan dengan mendidik rakyat untuk dijadikan tenaga buruh, khususnya kerja tanam paksa. Sehingga program pendidikan yang mereka buat tidak pernah berhasil.

Sedangkan negara-negara di Amerika latin mengalami perubahan besar dalam menggunakan bahasa. Sampai sekarang bahasa penjajah digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari bagi penduduknya. Ini berarti bahwa negara Spanyol bisa menjajah aspek bahasa dinegara-negara Amerika latin tersebut.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan negara Suriname. Negara yang banyak penduduknya berasal dari Jawa ini sebagian besar masih bisa mempertahankan bahasa Jawanya. Bahasa tersebut juga dipakai sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahkan ada salah satu stasiun radio yang berbahasa Jawa.

Filipina juga dijajah Spanyol selama 350 tahun dan bahasa penjajah mereka jadikan sebagai bahasa kedua dan mayoritas penduduknya bisa menggunakan bahasa tersebut. Padahal Negara Filipina sudah memiliki bahasa Tagalog sebagai bahasa asli mereka. Namun bahasa penjajah tetap bisa menguasainya.

Related Post

Proses Kemunduran Karya Sastra Pantun di Indonesia Karya sastra yang berupa pantun memang kurang begitu diminati dan perkembangannya sangat lambat dibandingkan dengan karya sastra lainnya. Padahal pant...
Kelebihan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Sebagian orang atau para calon mahasiswa mungkin masih ada yang memiliki anggapan miring terhadap jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Hal ini karena ...
Sejarah Awal Puisi Lama Di Indonesia Ternyata masyarakat Indonesia sudah mengenal puisi sejak dahulu sekitar abad 7 Masehi ketika pada masa kerajaan Sriwijaya. Hal ini terbukti dari penem...
Sutan Takdir Alisjahbana dalam Sastra Indonesia Nama Sutan Takdir Alisjahbana masih menjadi nama besar di dunia sastra Indonesia. Sastrawan yang lahir di Natal, 11 Februari 1908 ini telah meninggal ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *