Penerapan dan Peran Teks, Ko-teks, dan Konteks

By | November 22, 2016

Suatu wacana yang lengkap selalu melibatkan teks, ko-teks, dan konteks sebagai unsur wacana. Teks merupakan keseluruhan teks yang diungkapkan atau dibaca, sedangkan ko-teks adalah unsur yang sejajar dengan teks baik yang mengikuti atau mendahului teks, dan konteks merupakan situasi yang melingkupi suatu wacana. Selain mengatahui definisi teks, ko-teks, dan konteks, akan lebih jelas diterapkan pada contoh – contoh. Selanjutnya peran dari wacana dapat diketahui melalui contoh tersebut.

A. Penerapan Teks, Ko-teks, dan Konteks

Penerpana wacana dapat dilihat pada contoh artikel koran dibawah ini denga judul “Bosan Nganggur, Pemuda Gantung Diri”.

contoh-teks-koteks-konteksPada contoh diatas, akan dianalisis unsur teks, ko-teks, dan konteks yang termat didalamnya. Teks pada contoh diatas adalah keseluruhan artikel. Ko-teks pada contoh diatas adalah “Agung” yakni bertimbal balik dengan “Pemuda gantung diri” pada judul artikel. Konteks yang ada yaitu, konteks situasi yakni  terjerat kain selendang putih pada pagi hari, berada di kamar. Konteks budaya yakni pemuda berumur 27 tahun, sudah lama menganggur, putus asa.

Terkait antara wacana dengan teks atau ko-teks maka dapat disimpulkan bahwa, konteks dapat menjadi pemicu atau penyebab munculnya suatu teks, misalkan ujaran diungkapkan oleh penyampai pesan (addressor) “saya lapar” akan diungkapkan jika seseorang tidak makan sebelumnya.  Disisi lain jika dipandang dari sudut pandang penerima pesan (adressee) tentu akan melihat suatu teks terlebih dahulu baru memahami konteks yang termuat didalamnya. Selain itu konteks akan menentukan wacana yang termuat ujaran “saya lapar” dapat pula diartikan sebagai lapar ilmu pengetahuan jika seseorang membawa atau membaca buku. Begitu pula kata “operasi” akan berbeda jika diungkapkan oleh dokter dan seorang polisi. Oleh sebab itu makna akan menjadikan suatu teks memiliki makna.

B. Peran Teks, Ko-teks, dan Konteks

Unsur – unsur yang menjadi syarat wacana akan mewujudkan keteraturan suatu wacana. Setiap unsur tersebut memiliki peran masing – masing untuk membentuk wacana yang utuh termasuk peran teks, ko-teks, dan konteks. Teks memiliki peran sebagai wujud wacana baik lisan maupun tulis uyang membangun suatu peristwa komunikasi secara konkrit dari suatu bahasa.

Ko-teks mempunyai peran sebagai pendukung teks. Ko-teks memiliki kedudukan sejajar dan kooridnatif dengan teks (Mulyana, 2005;10). Oleh sebab itu konteks dapat berperan untuk memahami dan menganalisis wacana, teks yang mengandung ko-teks bearrti disebut sebagai wacana yang lengkap karen adanya hubungan teks yang baik.

Konteks dalam wacana menjadi latar belakang suatu pembicaraan dan menjadi kesatuan pemahaman antar penutur sehingga suatu wacana memiliki makna tertentu. Oleh sebab itu konteks memilki tiga peran yakni menguragi ambiguitas, mengindikasi referensi, dan  menditeksi implikatur percakapan (Song, 2010). Menguragi ambiguitas (eliminating ambiguity) yakni adanya banyak penafsiran dari kata, frasa, kalimat, dan paragraf baik disebabkan oleh homonimi dan polisemi yang disebut ambiguitas lexical, dan ambigutias struktural karena adanya analisis gramatikal pada kalimat atau frasa. Mengindikasi referensi (indicating referents) yakni untuk menghindari pengulangan yang biasa digunakan pada pecakapan misal subjek kalimat (I, he, she, you, etc.), menghidari penggunaan frasa nomina, frasa verba, dan frasa adverbia yang terkadang tidak perlu diujarkan. Menditeksi percakapan implicatur (detecting conversational implicature) yakni mengatahui apa yang maksudkan oleh pembicara (addressor) dengan apa yang ia sampaikan dalam percapkapan, karena terkadang apa yang pemikiran penutur tidak sepenuhnya termuat dalam ujaran.

Referensi

  • Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Song, Lichao. 2010. The role of Context in Dicource Analysis. Finland:  Journal of Language Teaching and Research, Vol. 1, No. 6, pp. 876-879.

Related Post

Pengertian Kajian Stilistika Stilistika berasal dari Bahasa Inggris, stylistics, yang secara sederhana diartikan sebagai ilmu tentang gaya bahasa. Stilistika merupakan bagian dari...
Aliran Linguistik Transformasional Aliran yang dipelopori oleh N. Chomsky ini merupakan reaksi dari paham strukturalisme. Konsep strukturalisme yang paling ditentang oleh aliran ini ial...
Pengertian Wacana dan Analisis Wacana Wacana merupakan salah satu kajian dalam ilmu linguistik yakni bagian dari kajian dari pragmatik. Wacana memiliki kedudukan lebih luas dari klausa d...
Pengertian dan Cabang-Cabang Psikolinguistik 1. Pengertian Psikolinguistik Psikologi (psychology) berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche (jiwa), dan logos (ilmu). Secara etimologi, psikologi...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *