Inti Pendidikan Berbasis Karakter

By | Juni 17, 2017

Sejak tahun 2014, negara Indonesia mulai menggalakkan pendidikan dengan kurikulum berbasiskan karakter untuk membentuk perilaku manusia. Hal ini memang sesuai dengan yang dicetuskan bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara dalam tujuan pendidikan disekolah.

Pendidikan berbasis karakter memang sesuai dengan Pancasila terutama sila kedua yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Seperti yang kita tahu bahwa makna dari kata “beradab” yaitu aturan atau norma perilaku yang baik dari manusia yang sesuai dengan hukum agama.

Tentu saja bentuk perilaku yang baik bagi siswa kepada orang tua, kepada guru, kepada teman-teman disekolah serta dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini memang perilaku yang sudah lama ditinggalkan, padahal sejak jaman dahulu sudah ada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila.

Pendidikan ini meliputi beberapa sikap antara lain bertanggung jawab, disiplin, menghormati orang lain, tenggang rasa, gotong royong, menghormati pendapat orang lain. Sikap-sikap seperti itu memang sudah jarang lagi ditanamkan pada anak-anak di sekolah-sekolah umum dan swasta.

Banyak sekolah-sekolah yang hanya mengajarkan bagaimana siswa-siswanya agar belajar dengan giat supaya nanti bisa lulus ujian saja. Hal ini memang tujuan sekolah, namun bukanlah sebagai tujuan utama untuk membentuk sumber daya manusia yang berakhlak baik dan mulia.

Akibatnya banyak para siswa yang tidak memiliki landasan moral yang baik dan hanya mengejar kecerdasan saja dan kurang memiliki perilaku yang baik. Jika manusia memiliki kecerdasan tanpa diimbangi dengan budi pekerti yang baik, maka sulit untuk menjalani hidup ini.

Tingkah laku yang baik tentu saja sangat dipengaruhi karakter dan budi pekerti mulia yang dibentuk dan ditanamkan sejak kecil atau atas kesadaran pribadi. Karakter yang baik juga akan mempengaruhi setiap pengambilan keputusan kita pada setiap langkah dalam kehidupan ini.

Pendidikan berbasis karakter memang sangat penting untuk bisa hidup bermasyarakat karena pada dasarnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri dan perlu berhubungan dengan orang lain dan saling membutuhkan dalam segala bidang.

Pendidikan karakter ini memang tidak hanya ditujukan pada sekolah saja, namun perlu digalakkan dalam berbagai lingkungan. Sekolah salah satu faktor penting yang bisa membantu dan mengarahkan siswa untuk membentuk karakter yang baik sebagai manusia pada khususnya.

Faktor penting lainnya adalah lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Hal ini karena sifat manusia cenderung untuk meniru orang lain. Jadi lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sebagai faktor duplikasi bagi perkembangan manusia terutama bagi para pelajar.

Sebaiknya pihak orangtua murid bisa bekerja sama dengan para guru. Tugas utama para guru adalah memberikan contoh dan pengajaran tentang akhlak yang baik. Hal ini karena sekolahan memang menjadi tempat yang sangat baik bagi pusat perkembangan sikap dan otak bagi anak.

Sedangkan tugas orangtua yaitu member contoh atau duplikasi dalam tingkah laku kepada orang lain terutama didalam masyarakat. Para orangtua sebaiknya memberi pengarahan indahnya berbuat baik sehingga anak-anak akan merasa senang untuk melakukan hal-hal yang baik.

Referensi :

indonesiasastra.org/2015/01/kurikulum-versi-ki-hadjar/

 

 

 

Related Post

Why Cognitive Linguists Should Care More About Emp... 1. Introduction Linguistics and psychology have always had a curious relationship. Ever since the early days of generative linguistics when Chomsky s...
Cara Cerdas Membaca dan Menghafal Bahasa Asing Dalam mempelajari bahasa asing yang bukan sebagai bahasa sehari-hari tentunya agak sulit dan perlu perjuangan untuk menguasainya. Apalagi bahasa terse...
Learning Sign Language as A Second Language Sign languages are natural languages. This means that sign languages are often learned as second languages just like spoken languages. Unlike spoken l...
A Brief History of Language Teaching This chapter, in briefly reviewing the history of language teaching methods, provides a background for discussion of contemporary methods and suggests...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *