Penerapan Metode Penerjemahan Puisi Susan Bassnett

By | Oktober 20, 2016

Abstrak

Puisi sebagai salah karya sastra fiksi yang menggunakan bahsa yang singkat dan Indah. Puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar dan dibacakan, sehingga penerjemahan dalam puisi menekankan gaya dan makna. Terkait dengan penerjemahan puisi terdapat beberapa metode penerjemahan puisi yang dikemukakan oleh Bassnet (2002) yang bersumber dari bukunya berjudul Translation Studies. Oleh karena itu artikel ini membahas tentang penerapan metode penerjemahan puisi yang dijabarkan pada beberapa contoh puisi terjemahan. Terdapat tujuh metode penerjemahan puisi beroirentasi pada dua hal yaitu gaya dan makna. Metode penerjemahan fonemik, literal, rima, dan metrikal menekankan gaya dan keindahan puisi, sedangkan metode penerjemahan puisi ke prosa, bait secara bebas, dan interpretasi menekankan pada makna.

Kata kunci: penerjemahan, penerjemahan puisi, metode penerjemahan

A. Pendahuluan

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang syarat akan keindahan. Bahasa yang digunakan dalam puisi mengadung makna estetika. Puisi umumnya di tulis, dibaca, dan didengarkan dengan lebih intensif dari pada bahasa biasa. Sebuah puisi dapat diinterpretasikan berbeda – beda antara oleh setiap pembaca atau pendenger. Oleh karena itu puisi juga disebut sebagai karya sastra yang bersifat subjektif. Dalam memahami sebuah puisi penikmat puisi harus memahami unsur intrisik maupan ekstrinsik yang termaut didalamnya. Hal ini untuk untuk mendapatkan kualtias bahasa kata yang disampaikan karena bahasa puisi yang cenderung bermakna konotatif dan menggunakan gaya bahasa tertentu.

Puisi sebagai salah satu karya sastra fiksi bisa berupa karya sastra asli dan berupa karya sastra terjemahan. Puisi terjemahan, tentunya harus memperhatikan unsur – unsur pembentuk puisi rima, tipografi, kata konkret, pengimajian, majas, diksi, tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat (Kosasih, 2008:32-40). Adanya perbedaan makna antara teks asli dan teks terjemahan dari unsur – unsur tersebut menjadi kesulitan tersendiri dalam penerjemahan.

Selain memahami tentang puisi, penerjemahan puisi juga harus memahami teori penerjemahan dan penerjemahan puisi. Penerjemahan dapat diartikan sebagai pengalihbahasaan berupa perubahan, merujuk, memproduksi dan menggantikan teks, kata, frasa, dan kalimat dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa) (Tanjung, 2015:6). Penerjemahan melibatkan aspek – aspek linguistik dan ekstra linguistik dari BSu dan BSa. Aspek –aspek tersebut sangatlah berbeda antara BSu dan BSa.

Terkait dengan penerjemahan puisi, teori metode penerjemahan puisi dikemukakan oleh Bassnett (2002) dalam buku yang berjudul “Translation Studies”. Dalam teori ini dikemukakan tujuh metode penerjemahan puisi yang mencakup, yaitu 1) phonemic translation, 2) literal translation, 3) metrical translation, 4) poetry into prose, 5) rhymed translation, 6) blank verse translation, dan 7) interpretation (Bassnett, 2002:87). Berdasarkan metode- metode tersebut dapat digunakan untuk menerjemahkan teks puisi. Akan tetapi setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak sepenuhnya bisa mencakup unsur-unsur dalam puisi terjemaha.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam artikel ini akan menjabarkan penerapan teori metode penerjemahan puisi oleh Bassnett (2002) yang bersumber dari buku berjudul “Translation Studies”. Puisi-puisi berbahasa Inggris akan dibahas untuk dijabarkan metode apakah yang digunakan dalam penerjemahanya ke bahasa Indonesia.

B. Kajian Teori

1. Penerjemahan

Study penerjemahan lebih dikenal dengan istilah penerjemahan yang masih dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran bahasa asing. Penerjemahan melibatkan alihbahasa dari BSu ke BSa untuk mendapatkan makna yang sama dan struktur yang mendekati bentuk asli agar tidak terdistorsi BSa (Bassnett, 2002:12). Pendapat Bassnet sejalan dengan Nida and Taber (1982:12) yang menyebutkan, penerjemahan mengungkapkan kembali pesan dalam BSu kedalam BSa dengan menggunakan kesepadanan yang wajar dan terdekat baik ditinjau dari segi makna maupun gaya.

Menurut Bassnett (2002: 17-18), studi penerjemahan mencakup empat area kajian yaitu dua kajian menekankan pada orientasi produk (product-oriented) terkait aspek fungsional kertkatian antara BSa dan BSu dan dua kajian lainya berorientasi pada proses (process-oriented) yang menekankan pada proses berlangungsnya penerjemahan.

Dapat disimpulkan bahwa penerjemahan merupakan tindak alihabhasa yang melibatkan BSu dan BSa dengan menciptakan padanan yang paling dekat baik makna, gaya, dan struktur bahasa. Penerjemahan berusaha semakimal mungkin melakukan padanan dalam hal makna, gaya, dan struktur bahasa untuk menyampaikan pesan agar dapat dipahami dengan baik oleh pembaca target.

2. Puisi

Puisi sebagai karya bersifat imajinatif, menggunakan bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak menggunakan makna kias dan makna lambang atau majas. Puisi adalah salah satu karya sastra yang disusun untuk mengekpresikan ide, gagasan, perasaan dan emosi penyair dengan menggunakan kata-kata yang indah, melebihi bahasa yang digunakan sehari-hari. Pengertian puisi Menurut Kamus Istilah Sastra puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait (Sudjiman, 1984). Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang dalam penyajiannya sangat mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna. Puisi mengandung unsur-unsur seni atau keindahan karena di dalam puisi terdapat kata-kata indah yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membuat para pembaca berkeinginan untuk membaca dan menyikap maksud yang tersirat. Selain itu, puisi mengekpresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan imajinasi dalam susunan yang berirama.

3. Metode Penerjemahan Puisi

Penerjamahan puisi sangat berkaitan erat akan unsur estetika, rima, irama, dan pesan, sehingga terdapat beberapa metode pada penerjemahan puisi yang berbeda dengan teks lainya. Terdapat tujuh jenis metode penerjemahan puisi yang biasa digunakan oleh penerjemah (Bassnett, 2002:87). Penjabaran ke-tujuh metode tersebut antara lain:

a. Penerjemahan fonemik (phonemic translation)

Metode perjemahan fonemik yaitu metode pengalihan makna dari puisi asli ke puisi sasaran dengan menciptakan kembali suara dari BSu ke BSa. Metode ini menekankan pada bunyi pada BSa, akan tetapi hasil terjemahanya terasa kaku dan makna puisi asli seringkali menghilang.

b. Penerjemahan literal (literal translation)

Metdoe ini diterapkan untuk menerjemahkan teks puisi kata demi kata dari BSu ke BSa. Resiko penerjemahan ini yaitu menghilangkan makna, struktur frasa dan kalimat yang melenceng jauh dari strutkur aslinya.

c. Penerjemahan rima/ sajak (rhymed translation)

Terjemahan rima adalah penejemahan puisi yang menekankan paca pencarian atau reproduksi rima asli ke dalam irama puisi terjemahan. Hasil terjemahannya akan sesuai secara fisik tetapi cenderung tidak sesuai secara makna.

d. Penerjemahan metrikal / irama (metrical translation)

Penerjemahan metris adalah penerjemahan yang menekankan pada produksi metris atau irama yang sama antara puisi asli dan puisi teks sasaran. Setiap bahasa memiliki sistem penekanan dan ejaan masing-masing. Karena itu metode ini akan menghasilkan hasil terjemahan yang tidak sesuai secara makna dan struktur.

e. Puisi ke prosa (poetry into prose)

Penerjemahan puisi ke prosa adalah penerjemahan makna ke teks sasaran dalam bentuk prosa. Kelemahan dari metode ini adalah hilangnya sisi keindahan dari puisi asli. Metode ini menimbulkan adanya distorsi rasa, nilai komunikatif, dan sintaksis dari teks sumber.

f. Bait secara bebas (blank verse translation)

Penerjemahan bait secara bebas Penerjemahan bait secara bebas adalah penerjemahan dengan memindahkan makna puisi asli dengan menggunakan padanan yang akurat dan memiliki nilai sastra dalam BSa. Penggunaan metode ini cenderung mengabaikan rima dan metris puisi asli. Hasil terjemahannya akan berbeda secara fisik, tetapi secara semantik sama.

g. Interpretasi (Interpretation)

Interpretasi adalah menerjemahkan dengan cara interpretasi pribadi penerjemah. Ada dua jenis interpretasi, yaitu ‘versi’ dan ‘imitasi’. Hasil terjemahan versi mengacu pada puisi yang secara semantik sama dengan puisi asli, tetapi secara fisik sangat berbeda. Sedangkan terjemahan imitasi menghasilkan puisi yang sangat berbeda, tetapi susunan, topik, dan starting point sama dengan puisi asli.

Penerjemahan fonemik, penerjemahan literal, penerejamhan rima (sajak), metrikal (irama) menekankan pada bentuk atau struktur poetik dari sebuah puisi, sedangkan penerjemahan puisi ke prosa, bait secara bebas, dan interpretasi menekankan pada makna yang akan dipindahkan dari BSu ke Bsa. Semua metode di atas hanya menekankan pada satu atau beberapa komponen poetik. Selain itu, suatu puisi memiliki satu kesatuan elemen, jika satu eleman dengan eleman lainya tidak saling berkaitan, maka makna hasil terjemahan puisi secara keseluruhan akan rusak.

C. Pemabahasan

Penerpaan teori metode penerjemahan puisi menurut Bassnett (2002) terdiri dari tujuh metode yaitu yaitu 1) penerjamahan fonemik, 2) penerjemahan literal, 3) penerjemahan irama, 4) penerjemahan metris, 5) penerjamahan bait ke prosa , 5) Penerjemahan bait secara bebas dan 7) interpretasi (Bassnett, 2002:87). Dari ke-tujuh metode ini akan dijabarkan satu persatu penerapanya dalam beberpa puisi yang berbeda-beda.

1. Penerjemahan Fonemik (Phonemic Translation)

Penerapan metode fonemik menekankan pada bunyi pada BSa. Contoh metode ini dapat dilihat pada penggalan puisi berikut ini.

Pada penggalan puisi ditas bunyi d pada akhir kata diterjemahkan dengan bunyi a pada bahasa sumber. Penekanan bunyi tetap dirasakan pada BSa walaupun konsonan berubah menjadi vokal.  Konsuenksi dari penerjemahan fonemik memang menyebabkan makna kurang akurat atau kabur, hal ini terlihat dari kata hound yang bermakna anjing diterjemahkan menjadi kuda dalam bahasa sasaran. Kata kuda tetap bisa digunakan karena tidak menghadirkan metafora pada puisi dan masih ada kesepanan penerjemahan.

2. Penerjemahan Literal (Literal Translation)

Penerapan metode literal dilakukan dengan menerjemahkan teks sumber ke teks sasaran secara langsung atau kata demi kata. Berikut contoh penerjemahan penggalan puisi karya Shakespeare.

Penerjemahan literal mengkibatkan makna, struktur frasa, dan kalimat melenceng dari struktur asli. Frasa puisi “summer day” di Inggris merupakan waktu yang sangat indah dimana matari bersinar terang dan bunga – bunga bermekaran. Akan tetapi jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “musim panas” tentunya akan memiliki citra yang berbeda karena musim dicitrakan dengan sawah – sawah kering, tanah retak, dan sungai – sungai yang mengering. Citra keindahan “summer day” terhadap “musim panas” yang gersang di Indonesia sangat bertolak belakang. Mengingat adanya citraan yang amat penting dalam keseluruhan puisi yang utuh maka penerjemahan puisi karya Shakespeare ini tetap mempertahankan gambaran musim panas di Inggris ke dalam benak para pembaca.

3. Penerejemahan Rima/ Sajak (Rhymed Translation)

Metode penerjemahan rima menekankan pada penerjemahan yang menghadirkan rima yang ada pada puisi asli pada puisi sasaran.

Hasil terjemahan penggalan puisi ini secara fisik memiliki sajak yang sama,  pada puisi asli bersajak g g, sedangkan pada puisi sasaran bersajak u u. Hasil terjemahan menghasilkan gaya indah. Pada contoh ini makna dapat tersampaikan dengan baik, akan tetapi dalam beberapa kasus makna puisi menjadi tidak sesuai.

4. Penerjemahan Metris/ Irama (Metrical Translation)

Metode penerjemahan metris dicontohkan pada penggalan puisi berikut ini:

metode-penerjemahan-puisiPada penerjemahan puisi di atas, penerjemah fokus pada meter puisi. Penekanan antara puisi asli dan terjemahan sama. Berdasarkan contoh diatas pada bait pertama adalah penekanan A dan puisi target juga memiliki penekanan A yang diterapkan secara sempurna pada bait berikutnya.

5. Puisi ke Prosa (Poetry Into Prose)

Metode penerjemahan ini dimaksudnya dengan melakukan penerjemahan tetapi lebih menekankan pada kejelasan teks. Metode puisi ker prosa dicontohkan pada penggalan puisi berikut ini.

Teks puisi BSu

O, my love is like a red, red rose,

That is newly sprung in June.

O, my love is like the melody,

That is sweetly played in tune. (A Red, Red Rose by Robert Burns)

Teks puisi BSa

Burns, sang penyair, berusaha untuk menjelaskan cinta nya dengan suatu bunga mawar. Sekuntum bunga indah merah merekah pada bulan Juni di musing semi. Cinta nya juga seperti musik yang memberi emosi yang intensif. (Untitled, translated by Sarif Syamsu Rizal)

Pada terjemahan puisi diatas, penerjemah tidak hanya menerjemahkan dalam bahasa target, tetapi juga merubahnya menjadi prosa dengan mengkombinasikan setiap bait menjadi paragraf.

6. Puisi secara Bebas (Blank Verse Translation)

Penerjemahan puisi dengan metode puisi secara bebas menekankan pada keakuatan dan nilai sastra. Contoh pada penggalan puisi yang diterjemahkan oleh Widyawati Prayitno berikut dengan judul “Anak yang terkenal”

Terlihat sekali bahwa pada hasil terjemahan menekankan pada unsur sastra dengan pemilihan diksi bahasa Indonesia. Pembaca puisi ini seolah – olah tidak merasakan sedang membaca puisi terjemahan. Unsur sastra bisa dirasakan pada semua bait. Pada bait pertama kata did not obey good words di terjemahkan tak patuhi perintah. Pada bait kedua kata shoked diartikan lara, dan nerveous diartikan serta. Pada bait ketiga Neighs the horse at the stable diterjemahkan sayup-sayup ringkikan. Bait ke empat jurney service diterjemahan perjalanan panjang. Secara harfiah hasil terjemahanya sangat berbeda akan tetapi dari segi makna lebih akurat dan berterima.

7. Interpretasi (Interpretation)

Metode interpteasi dalam puisi didasarkan pada penafsiaran dari penerjemah terhadap puisi, karena puisi merupakan karya sastra yang bersifat subjektif. Penggalan puisi dengan judul “You are my holy shrine” berikut ini dapat dijadikan contoh metode interptetasi.

Teks puisi BSu

O, my love is like a red, red rose,

That is newly sprung in June.

O, my love is like the melody,

That is sweetly played in tune. (A Red, Red Rose by Robert Burns)

Teks puisi BSa

metode-penerjemahan-puisi-bassnettDari dua penerjemahan yang diterjemahkan oleh Sarif Syamsu Rizal diatas, penerjemah menggunakan metode intepretasi, dan terdapat dua hasil, yaitu pertama metode versi, hasil terlihat seperti puisi asli, tetapi dengan bentuk sedikit berbeda. Kedua metode imitasi, hasil berbeda dengan puisi asli, baik bentuk dan fitur linguistiknya tetapi memiliki ide yang sama dengan puisi asli.

Secara semantik penerjemahan puisi ini memiliki makna yang sama terletak pada empat diatas. Kedua puisi mengandung arti sama menurut sudut pandang antara pengarang dan penerjemah. Oleh karena itu dinamkan metode interptreasi versi. Selain itu, terjemahan interpreasi imitasi juga dapat dilihat pada terjemahan puisi diatas. Hasil terjemahan menggunakan sajak, hal ini menghasilkan puisi yang sangat berbeda, tetapi topiknya sama dengan puisi asli.

D. Kesimpulan

Pada penerjemahan puisi pada dasar akan dihadapkan pada dua hal yaitu yang penting yaitu makna atau gaya. Penekanan puisi pada makna akan menyebabkan unsur keindahan puisi hilang. Disisi lain jika menekankan pada gaya maka makna dan pesan yang sampaikan puisi akan menjadi rancu. Baik penekanan pada makna dan gaya memiliki konsukuensi hasil terjemahan yang berbeda baik dari segi kekuranganya maupun kelebihanya.

Bassnett (2002) memberikan penjabaran metode penerjemhan yang dapat digunakan pada penerjemahan puisi, sehingga seorang penerjemah dapat menekankan hasil terjemahan apakah cenderung ke makna atau gaya. Berdasarkan tujuh metode penerjemhan puisi dapat simpulkan bahwa, metode penerjemahan fonemik, penerjemahan literal, penerejamhan rima (sajak), metrikal (irama) menekankan pada bentuk atau struktur gaya dan keindahan dari sebuah puisi, sedangkan metode penerjemahan puisi ke prosa, bait secara bebas, dan interpretasi menekankan pada makna yang akan dipindahkan dari BSu ke Bsa. Oleh karena itu, penerjemahan puisi perlu memperhatikan tujuan penerjemahanya, sehingga dimungkinkan sebuah puisi diterjemahkan berbeda-beda atau dalam beberapa versi terjemahan.

Daftar Pustaka

  • Anggana, Rezki Lintang. 2012. Textual Elements And Translation Methods Of Toeti Heraty’s Poems Translated By Ulrich Kratz. Tesis. Semarang: Udinus.
  • Bassnett, Susan. 2002. Translation Studies. London: Routledge.
  • Kosasih, E. 2008. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.
  • Nida, E. A and Taber, C. A. 1974. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill.
  • Suryawinata, Zuchridin dan Hariyanto, Sugeng. 2003. Translation: Bahasan Teori dan Penuntun Praktis Menerjemahkan. Yogyakarta: Kanisius.
  • Sudjiman, Panuti. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
  • Tanjung, S. 2015. Penilaian Penerjemahan Jerman-Indonesia.  Yogyakarta: Kanwa Publisher.
  • Tirtawirya, Putu Arya. 1980. Apresiasi Puisi dan Prosa. Bandung: Nusa Indah.

Related Post

Should Editors of Translations Know The Source Lan... Books from so many countries are now published in English that it is highly unlikely any publishing house will have editors that are fluent in all the...
Teori Filosofi Penerjemahan (Jeremy Munday) Pendekatan filosofis pada penerjemahan bertujuan untuk mengungkap esensi tindak translasi. Filosofis modern berusaha dikenalkan oleh beberapa ahli s...
Finding the Right Translator When an editor acquires a foreign-language novel, and is excited by this ‘new find,’ he or she hopes to commission a translator who shares that enthus...
Teknik Penerjemahan Istilah Blog pada Blogspot Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi teknik penerjemahan istilah blog dalam Blogspot dan mendeskripsikan ideologi penerjemaha ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *