Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

By | November 1, 2016

kemampuan-berfikir-tingkat-tinggiKemampuan berfikir tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) menjadi salah satu kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki siswa pada saat ini khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris. HOTS adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik tidak hanya untuk mengingat dan menjabarkan suatu materi yang telah diajarkan tetapi juga mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan.

Ranah dari HOTS yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi; dan mengkreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.

Latar belakang digalakkannya pengembangan butir soal HOTS ini adalah rendahnya kemampuan peserta didik Indonesia dalam survey yang dilaksanakan oleh benchmarking internasional seperti PISA (2009) dan PIRLS (2011). Belajar berpikir kritis tidak langsung seperti belajar tentang materi, tetapi belajar bagaimana cara berpikir kritis dalam penggunaanya untuk memecahkan masalah saling berkaitan satu sama lain.

A. Pendahuluan

Peningkatan keterampilan berfikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) telah menjadi salah satu prioritas dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris . Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 dalam pasal 28, ayat 1 mengamanatkan bahwa: Yang dimaksud dengan pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) pada ketentuan ini adalah peran pendidik sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Berdasarkan kutipan regulasi pendidikan tersebut, dapat dipahami secara jelas bahwa proses pendidikan dan pembelajaran pada satuan pendidikan manapun, secara yuridis formal dituntut harus diselenggarakan secara aktif, inovatif, kreatif, dialogis, demokratis dan dalam suasana yang mengesankan dan bermakna bagi peserta didik. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa perundangan dan peraturan pendidikan yang berlaku di Indonesia. Hal ini mengindikasikan pentingnya diterapkan strategi pembelajaran yang dapat memperdayakan peserta didik.

B. Pembelajaran Bahasa Inggris

Tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah agar pembelajar menguasai bahasa Inggris khususnya berkomunikasi secara lisan maupun tulisan secara lancar dan sesuai dengan konteks sosialnya (Depdiknas, 2003: 15). Kompetensi bahasa Inggris siswa mencakup keterampilan: mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Mendengar berarti memahami berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat buku pelajaran) berbagai teks lisan yang memiliki tujuan komunikatif, struktur teks, dan linguistik tertentu.

Berbicara berarti mengungkapkan berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat, buku pelajaran) melalui berbagai teks lisan yang memiliki tujuan komunikatif, struktur teks, dan linguistik tertentu. Membaca berarti memahami berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat, buku pelajaran) dalam berbagai teks tulis yang memiliki tujuan komunikatif, struktur teks, dan linguistik tertentu. Menulis berarti mengungkap berbagai makna (antar perseorangan, pendapat, buku pelajaran) dalam berbagai teks tulis yang memiliki tujuan komunikatif, struktur teks, dan linguistik tertentu. Berkomunikasi secara lisan dan tulisan dengan menggunakan ragam bahasa secara lancar dan akurat merupakan target pembelajaran bahasa Inggris (Depdiknas, 2003: 16).

Keterampilan dalam berbahasa merupakan kewajiban yang harus dimiliki oleh siswa setelah belajar bahasa Inggris. Mendengar berarti memahami berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat, buku pelajaran) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama yang berbentuk deskriptif, naratif, mencertiakan kegiatan, prosedur, laporan, pokok berita, anekdot, eksposisi,penjelasan, diskusi, komentar, dan tinjauan. Berbicara berarti mengungkap berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat, buku pelajaran) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama yang berbentuk deskriptif, naratif, mencertiakan kegiatan, prosedur, laporan, pokok berita, anekdot, eksposisi,penjelasan, diskusi, komentar, dan tinjauan. Membaca berarti memahami berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat, buku pelajaran) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama yang berbentuk deskriptif, naratif,mencertiakan kegiatan, prosedur, laporan, pokok berita, anekdot, eksposisi, penjelasan, diskusi, komentar, dan tinjauan. Menulis berarti mengungkap berbagai makna (antar-perseorangan, pendapat, buku pelajaran) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama yang berbentuk deskriptif, naratif,mencertiakan kegiatan, prosedur, laporan, pokok berita, anekdot, eksposisi,penjelasan, diskusi, komentar, dan tinjauan.

C. Pembelajaran Bahasa Inggris di SMA

Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi lisan dan tulisan. Berkomunikasi dalam bahasa Inggris dimaksudkan untuk memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya (Depdiknas, 2004:6). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penguasaan bahasa Inggris bagi siswa SMA merupakan persyaratan penting sebagai bekal dalam upaya melakukan interaksi dan komunikasi di tengah pergaulan masyarakat yang semakin berkembang, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Sehubungan dengan hal itu, penguasaan bahasa Inggris dapat diperoleh melalui berbagai program, dan program pengajaran atau pembelajaran di sekolah secara formal tentunya merupakan sarana utama bagi siswa SMA.

Fungsi

Mata pelajaran bahasa Inggris merupakan mata pelajaran pilihan di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berfungsi sebagai alat pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya.Dengan demikian mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkepribadian Indonesia serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional (Depdiknas, 2004:6).

Tujuan

1) Mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa tersebut, dalam bentuk lisan dan tulis. Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).

2) Menumbuhkan kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar.

3) Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antar bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Inggris (Depdiknas, 2004:7) meliputi:

1) Keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

2) Sub-kompetensi yang meliputi kompetensi tindak bahasa, linguistik (kebahasaan), sosiokultural, strategi, dan kompetensi wacana.

3) Pengembangan sikap yang positif terhadap bahasa Inggris sebagai alat komunikasi.

a. Standar Kompetensi Bahan Kajian (Bahasa Inggris)

Setiap mata pelajaran memiliki karateristik tertentu bila ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, ataupun materi yang dipelajari dalam rangka menunjang tercapainya kompetensi tersebut. Ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, maka pelajaran bahasa Inggris ini menekankan pada aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan berbahasa lisan dan tulis baik respektif maupun produktif.

Penerapan konsep dalam pengajaran bahasa Inggris menyiratkan bahwa: (1) unsur-unsur bahasa Inggris, yaitu tata bahasan kosakata, ejaan dan lafal hendaknya disajikan dalam lingkup kebahasaan dan lingkup situasi, sehingga makna di maksud jelas. Lingkup situasi harus mencakup lingkup budaya sasaran dan budaya peserta didik; (2) pembelajaran unsur-unsur bahasa ditujukan untuk mendukung penguasaan dan pengembangan empat keterampilan berbahasa Inggris yang mencakup: mendengar, berbicara, membaca dan menulis, dan bukan untuk kepentingan penguasaan unsur-unsur bahasa itu sendiri; (3) dalam proses belajar mengajar, unsur – unsur bahasa yang dianggap sulit bagi peserta didikdapat disajikan tersendiri secara sistematis sesuai dengan konteks yang dibahas; (4) dalam proses belajar mengajar ke empat keterampilan berbahasa pada hakekatnya tidka dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, keterampilan berbahasa harus dikembangkan secara terpadu; (5) peserta didik harus dilibatkan dalam semua kegiatan belajar yang bermakna, yaitu kegiatan yang dapat membantu mengembangkan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya, mendorong peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi warganegara yang berkepribadian Indonesia, dan mengembangkan keterampilan bergaul (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2007:IX-X).

D. HOTS (Higher Order Thinking Skills)

Higher Order Thinking Skills atau disingkat dengan HOTS didefinisikan sebagai tingkatan berfikir dimana proses yang dilakukan lebih dari sekedar mengulang informasi atau fakta. Hal ini dijelaskan oleh Thomas & Thorne (2009) bahwa HOTS mengharuskan untuk ‘melakukan sesuatu’ atas fakta-fakta tersebut. Lebih jauh, King, Goodson, & Rohani (1998) menjelaskan bahwa HOTS melibatkan beragam penerapan proses berfikir dalam situasi-situasi kompleks dan terdiri dari banyak variable yaitu termasuk berfikir kritis, logis, reflektif, metakognitif,dan berfikir kreatif.

Mereka teraktivasi ketika individu mengalami masalah asing, ketidakpastian, pertanyaan atau dilema. Senada dengan ini, Ormrod (2003) mengatakan metakognisi, problem solving dan berfikir kritis adalah bagian dari HOTS. Sedangkan dalam taksonomi Bloom hasil revisi Anderson & Krathwohl (Moore & Stanley, 2010), HOTS dispesifikkan ke dalam tiga dimensi berfikir yang terdiri dari Analyzing, Evaluating dan Creating.

Tujuan HOTS

Mencakup dari semua yang disebutkan beberapa ahli di atas, maka penting kiranya untuk mempelajari HOTS. Brookhart (2010) memaparkan jenis HOTS didasarkan pada tujuan pembelajaran di kelas, yaitu terdiri dari tiga kategori: HOTS sebagai transfer, HOTS sebagai critical thinking, dan HOTS sebagai problem solving. HOTS sebagai transfer didefinisikan sebagai keterampilan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dikembangkan dalam pembelajaran pada konteks yang baru. Baru disini diartikan sebagai sesuatu yang belum diajarkan sebelumnya. HOTS sebagai transfer mencakup analyzing, evaluating, creating, berfikir kreatif, berfikir logis dengan dirangkum menjadi menganalisa, mengevaluasi dan mencipta, sedangkan dua keterampilan lainnyasudah termasuk di dalamnya (Brookhart, 2010).

HOTS sebagai critical thinking didefinisikan sebagai keterampilan memberikan keputusan (judgment) menggunakan alasan yang logis dan ilmiah. Ini mencakup berfikir kritis dan metakognitif. HOTS sebagai problem solving didefinisikan sebagai keterampilan mengidentifikasi masalah dan menyelesaikan masalah yang bersifat ill structured. Ini mencakup problem solving itu sendiri (Brookhart, 2010).

Jadi, HOTS yang dimaksud disini mencakup keterampilan menganalisa (analyzing), mengevaluasi (evaluating), mencipta (creating), berfikir kritis (critical thinking) dan penyelesaian masalah (problem solving). Indikator keterampilan menganalisa, mengevaluasi dan mencipta didasarkan pada teori yang dipaparkan Anderson & Krathwohl (2001), sedangkan keterampilan berfikir kritis dan penyelesaian masalah didasarkan pada teori yang dijelaskan oleh Brookhart (2010).

HOTS dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

HOTS sebagaimana yang dijelaskan oleh Thomas & Thorne (2009) adalah keterampilan berfikir yang lebih daripada sekedar menghafalkan fakta atau konsep. HOTS mengharuskan peserta didik melakukan sesuatu atas fakta-fakta tersebut. Peserta didik harus memahaminya, menganalisis satu sama lainnya, mengkategorikan, memanipulasi, menciptakan cara-cara baru secara kreatif dan menerapkannya dalam mencari solusi terhadap persoalan-persoalan baru.

HOTS dibagi menjadi empat kelompok yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berfikir kritis dan berfikir kreatif. Untuk melaksanakan penilaian, guru memerlukan instrumen penilaian dalam bentuk soal-soal, baik untuk menguji aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Instrumen penilaian yang digunakan guru untuk menguji hasil belajar peserta didik pada aspek pengetahuan biasanya diambil dari berbagai buku atau kumpulan soal-soal ujian. Soal dapat berupa uraian atau pilihan ganda.

Latar belakang dari digalakkannya pengembangan butir soal HOTS ini adalah rendahnya kemampuan bahasa Inggris peserta didik Indonesia dalam survey yang dilaksanakan oleh benchmarking internasional seperti PISA (2009) dan PIRLS (2011). Belajar berpikir kritis tidak langsung seperti belajar tentang materi, tetapi belajar bagaimana cara berpikir kritis dalam penggunaanya untuk memecahkan masalah saling berkaitan satu sama lain. Keterampilan berpikir peserta didik dapat dilatihkan melalui kegiatan dimana peserta didik diberikan suatu masalah dalam hal ini masalah berbentuk soal yang bervariasi.

Dari data tersebut, perlu kiranya untuk menemukan solusi penyelesaian masalah, yakni bagaimana untuk menciptakan pembelajaran bahasa Inggris yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Hal ini dilakukan agar siswa dapat mengembangkan ide-ide yang telah mereka dapat dari untuk selanjutnya dapat melatih mereka untuk berfikir tingkat tinggi.

Kenyataan di lapangan, soal-soal bahasa Inggris cenderung lebih banyak menguji aspek ingatan. Banyak buku yang menyajikan materi dengan mengajak peserta didik belajar aktif, sajian konsep sangat sistematis, tetapi sering diakhiri soal evaluasi yang kurang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.

Untuk menguji keterampilan berpikir peserta didik, soal-soal untuk menilai hasil belajar dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik menjawab soal melalui proses berpikir yang sesuai dengan kata kerja operasional dalam taksonomi Bloom, baik pada soal pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Di dalam pembelajaran khususnya dalam bahasa Inggris, dinyatakan bahwa kemampuan peserta didik bukan hanya untuk menguasai sekumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan, berarti peserta didik harus selalu diajak untuk belajar dengan menggunakan proses berpikir untuk menemukan konsep-konsep tersebut.

Pengembangan Soal HOTS Bahasa Inggris

Pengembangan soal HOTS dalam bahasa Inggris memerlukan berbagai kriteria baik dari segi bentuk soalnya maupun konten materi subjeknya. Teknik penulisan soal-soal HOTS baik yang berbentuk pilihan ganda atau uraian secara umum sama dengan penulisan soal tingkat rendah, tetapi ada beberapa ciri yang membedakannya.

Ada beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman oleh para penulis soal dalam hal ini guru untuk menulis butir soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi para siswa, yakni materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku sesuai dengan ranah kognitif Bloom pada level analisis, evaluasi dan mengkreasi, setiap pertanyaan diberikan dasar pertanyaan (stimulus) dan soal mengukur kemampuan berpikir kritis. Soal HOTS selayaknya meminimalisir kemampuan mengingat kembali informasi (recall), tetapi lebih mengukur kemampuan:

  1. Transfer satu konsep ke konsep lainnya,
  2. Memproses dan menerapkan informasi,
  3. Mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda,
  4. Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah,
  5. Menelaah ide dan informasi secara kritis.

Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut berpikir tingkat tinggi, maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus) yang berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks bacaan, paragrap, teks drama, penggalan novel/cerita/dongeng, puisi, kasus, gambar, grafik, foto, rumus, tabel, daftar kata/simbol, contoh, peta, film, atau suara yang direkam.

Keterampilan-keterampilan di dalam HOTS di dalam taksonomi Bloom termasuk tiga level tertinggi yaitu analisis, evaluasi dan mengkreasi. Untuk peserta didik tingkat menengah tidak semua keterampilan dapat dilatihkan melalui pemecahan soal-soal tetapi kita dapat memilih yang sesuai dengan tingkat berpikir peserta didik tersebut dan mendesain menjadi soal yang mendorong peserta didik berpikir tingkat tinggi dalam kemampuan bahasa Inggrisnya.

Berikut contoh soal HOTS yang dapat dikembangkan dari sebuah teks bahasa Inggris

Mengkreasi :

Compose a letter of apology from Kancil to Crocodile!

Mengevaluasi :

Do you think Kancil has done the right thing? Why?

Menganalisis :

In what ways are Kancil and Crocodile different?

Daftar Pustaka

  • Anderson dan Krathwohl. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing (A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives). Abridge Edition. Penerbit David McKay Company. New York
  • Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. BNSP Depdiknas 2004. Undang-undang Republik Indonesia Tentang SistemPendidikan Menengah. Jakarta: Depdiknas RI
  • Brookhart, S.M. (2010) How To Assess Higher-Order Thinking Skills In your Classroom. Virginia: ACSD Member Book.
  • Depdiknas. 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tentang SistemPendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas RI
  • King, Goodson dan Rohani. 1998. Higher order thinking skills. [online]. Tersedia: http://www.cala.fsu.edu/files/higher_order_thinking_skills.pdf [diakses 5 Agustus 2016]
  • Moore, B & Stanley, T. 2010. Critical Thinking and Formative Assessment. Larchmont: Eye of Education
  • Ormrod, J. E. 2003. Educational Psychology Developing Learners (4th ed). USA : Merill Prentice Hall.
  • Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Depdiknas
  • PIRLS. 2011. International Result in Mathematic. TIMSS and PIRLS
  • PISA. 2009. PISA 2009 Plus Result Performance of 15-years-old in Reading, Mathematics and Science for 10 Additional Participants. http://nces.ed.gov/surveys/pisa. Accessed on July 29th 2016
  • Thomas, A. dan Thorne, G., 2009. How to Increase Higher Order Thinking: Retrieved on August 01st 2016 from http://www.cdl.org/articles/how-to-increase-high-orderthinking/

Related Post

Ambiguitas Struktural dalam Pembelajaran Bahasa In... A. Pendahuluan Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan ambiguitas, Hurford dan Hesley (1983:128) mengelompokkan ambiguitas menjadi dua hal yak...
Types and Uses of Language Tests Source: bookfi.net A. Two Families of Language Tests Language testing is a test that is used to measure of student’ English ability skills and perf...
First Language Acquisition A. Introduction Learning a first language is an amazing accomplishment. It is a learning task perhaps like no other. At the onset of the language-l...
Kajian Penyusunan Desain Kurikulum Oleh Pengajar B... A. Pendahuluan Desain kurikulum menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilih...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *