Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia

By | November 14, 2016

Istilah kata serapan digunakan oleh Sudarno (1990), ada juga istilah loans words atau kata-kata pinjaman yang disebutkan oleh Jones. Istilah kata serapan atau kata pinjaman tersebut digunakan untuk menyebut kosakata suatu bahasa yang bukan merupakan kosakata asli.

faktor-kata-serapanMenurut Moeliono (1989: 33-34) ada beberapa faktor yang melatarbelakangi praktik pemungutan kata, yaitu:

  1. Kehematan
  2. Kejarangan bentuk
  3. Keperluan akan kata yang searti
  4. Perasaan seorang dwibahasawan bahwa pembedaan arti dalam bahasanya sendiri tidak cukup cermat
  5. Dorongan gengsi yang lekat pada pemahaman bahasa asing
  6. Kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia

Suatu kata pinjaman dapat diterima ke dalam kosakata suatu bahasa didasarkan pada beberapa bentuk, yaitu:

1. Xénisme

Xénisme: penggunaan kata asing yang tetap memiliki bentuk dan makna yang sama dengan kata dalam bahasa aslinya. Contoh kata dalam bidang mode, haute couture.

2. Perubahan fonologis

Perubahan fonologis: kata serapan yang sudah masuk menjadi kosakata suatu bahasa kemungkinan mengalami perubahan fonologis, disesuaikan dengan pelafalan bahasa peminjamnya.

3. Perubahan morfo-sintaksis

Perubahan morfo-sintaksis: contoh perubahan ini yaitu adanya penggantian atau penambahan sufiks tertentu seperti sprint > sprinter.

Bahasa Indonesia sendiri dipengaruhi oleh bahasa-bahasa di sekitarnya. Pengaruh itu meliputi perbendaharaan kata maupun imbuhan, baik yang berasal dari bahasa daerah ataupun bahasa asing. Berikut contoh-contohnya:

1. Pengaruh perbendaharaan kata

– Bahasa Jawa: lowongan, beres, pamong praja, sewenang-wenang
– Bahasa Sunda: camat, anjangsana, mendingan
– Bahasa Sansekerta: perdana, agama, bijaksana, sengsara
– Bahasa Tionghoa: lonceng, sampan, bakpau
– Bahasa Inggris: badminton, raket, kiper, parlemen
– dan lain-lain

2. Pengaruh imbuhan (awalan dan akhiran)

1) a-, an-, ab-, in-, i-, im-, de-,non- : tidak, contohnya asusila, anorganik, abnormal, infinit, irasional
2) swa-: sendiri, contohnya swadaya, swakarya, swasembada
3) re- : kembali, contohnya reformasi, regenerasi
4) pra- : sebelum, contohnya prakata, prabakti, prasejarah
5) -i, -wi : bersifat, contohnya alami, falsafi, duniawi
6) –wan, -wati, -or, -om, -og, -us, -en, -an, -si: orangnya, contohnya bangsawan, negarawan, wartawan
7) –isasi: peristiwa, contohnya nasionalisasi, modernisasi
8) –isme: aliran, contohnya dinamisme, animisme, nasionalisme
9) –if, -ah, -tis: sifat, contohnya agresif, jasmaniah, agoistis
10) dan lain-lain

Referensi

  • Budiman, Sumiati. 1987. Sari Tata Bahasa Indonesia. Klaten: PT. Intan Pariwara.
  • Mellyna, Katarina. 2011. Kata Serapan dan Kata Non-Serapan dalam “Orang Asing dan Sang Pemberontak”: Sebuah Kajian Semantis. Universitas Indonesia. Diakses dari: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20316254-S42391-Kata%20serapan.pdf
  • Musfiroh, Tadkiroatun. Perbedaan Makna Kata-Kata Bahasa Indonesia Serapan Bahasa Arab dari Makna Sumbernya. FBS Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari: https://core.ac.uk/download/pdf/11062901.pdf

Bagaimana Menurutmu?

Related Post

Connection between Language and Thought One of psycholinguistic subject is tried to find the relation between language and though. How they are able to collaborate to produce communication b...
Taksonomi Kategori Linguistik Ada beberapa taksonomi kesalahan berbahasa yang telah didasarkan pada butir linguistik yang dipengaruhi oleh kesalahan. taksonomi-taksonomi kategori l...
The Critical in Applied Linguistics The emergence of these various critical projects has been met with mixed responses. For some, critical applied linguistics is little more than a criti...
Phonological Development Speech perception in infancy One commonly used technique is known is the sucking habituation paradigm. In this procedure, experimenters measure the...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *