Kajian Fonetik dalam Ilmu Linguistik

By | Oktober 21, 2016

Banyak ahli linguistik dewasa ini fonetik itu dianggap termasuk dalam fonologi, sehingga kedua taraf ini sistematik bunyi disebut fonologi saja; namun fonetik dianggap berbeda dari fonologi. Fonologi menyelidiki bunyi bahasa hanya menurut segi fungsionalnya saja. Namun fonetik (Inggris. phonetics, kata sifatnya phonetic, kata sifat bahasa Indonesia “fonetis”, berbeda dari “fonetik” sebagai kata benda) adalah penyelidikan bunyi-bunyi bahasa, tanpa memperhatikan fungsinya untuk membedakan makna (Verhaar: 1986: 12).

kajian-fonetik-dalam-ilmu-linguistikFonetik atau ilmu bunyi menyelidiki bunyi sebagaimana terdapat dalam parole atau sebagaimana mungkin terdapat di dalamnya. Umpamanya, fonetiklah yang merumuskan bahwa bunyi [d] dalam kata Indonesia tidak mempunyai aspirasi yang agak keras pada ucapan orang yang berbahasa Jawa, dan tidak begitu keras atau samasekali tidak pada ucapan orang di daerah lain. Perbedaan ucapan tersebut tidak “fungsional” dalam bahasa Indonesia, jadi tidak termasuk dalam fonologi, melainkan termasuk dalam fonetik saja. Demikian pula bunyi [t] dlam bahasa Inggris diberi aspirasi bila terdapat pada awal kata dan diikuti oleh sebuah vocal; sedangkan aspirasi itu tidak terdapat bila bunyi [t] tidak terdapat pada awal kata (contoh yang pertama: top; contok kedua stop). Padahal perbedaan tersebut tidak “fungsional” dalam bahasa Inggris, maka tidak termasuk fonologi, melainkan dalam fonetik saja. Fonetik menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut perbedaan diantaranya tanpa memperhatikan segi “fungsional” dari perbedaan tersebut.

Menurut verhaar (1986) fonetik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: 1) akustik, 2) auditoris, dan 3) organis.

1. Fonetik akustik

Fonetik akustik adalah menyelidiki bunyi bahasa menurut aspek-aspek fisisnya sebagai getaran udara. Apabila kita memetik gitar misalnya, maka tali gitar (senar) akan bergetar, sehingga menyebabkan udara bergetar pula, dan terjadilah bunyi yang dapat kita dengar. Demikian pula halnya dengan bunyi bahasa, yang dihasilkan dengan alat-alat bicara. Untuk fenetik akustik dalam penyelidikan spesialistis perlu peralatan elektronis yang rumit, jadi penyelidikan tersebut dapat dikerjakan hanya dalam laboratorium fonetis.

2. Fonetik auditori

Fonetik auditoris adalah penyelidikan mengenai cara penerimaan bunyi-bunyi bahasa oleh telinga. Fonetik audiotoris tidak banyak dikerjakan dalam hubungan linguistic, buku-buku standar mengenai linguistic juga sedikit sekali menguraikan mengenai fonetik auditoris itu, dan keahlian yang dituntut sebenarnya adalah keahlian dalam ilmu kedokteran.

3. Fonetik organis

Fonetik organis adalah menyelidiki bagaimana bunyi-bunyi bahasa dihasilkan dengan alat-alat (atau “organ’) bicara (organs of speech). Bidang ini penting sekali dalam ilmu linguistik.

Referensi

Verhaar, John. W. M. (1986). Pengantar linguistik. Yogyakarta: Gaja Mada Uversity Press.

Related Post

3 Fenomena Linguistik Terpopuler 2016 Bahasa sebagai sarana kumunikasi tidak lepas dari kehidupan manusia. Fenomena linguistik muncul sebagai penerapan unit linguistik baik secara lisan ma...
Cabang-Cabang Ilmu Linguistik Cabang-cabang linguisik dibagi dua yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik dibagi dua yakni umum (fonologi, morfologi, semantik, si...
Campur Kode dan Tenggelamnya Bahasa Indonesia Semakin hari semakin terasa tenggelamnya bahasa Indonesia. Banyak penutur baik di media sosial, acara tv, Youtube, bahkan masyarkat umumpun sekarang l...
Proses Munculnya Aksara Jawa Latar belakang atau asal usulnya aksara Jawa memang masih misteri dan belum bisa terpecahkan hingga beratus-ratus tahun sampai sekarang ini. Semuanya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *