Tiga Jenis Sistem Ortografi Linguistik

By | November 29, 2016

Ortografi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari ejaan. Oleh karena itu, subdisiplin ini juga dapat disebut ilmu ejaan atau grafonomi. Harap untuk tidak disamakan dengan grafologi. Grafologi adalah ilmu yang mempelajari ilmu dan tulisan dalam kaitannya dengan nasib dan peruntungan seseorang. Jadi merupakan bidang interdisipliner antara linguistik dan ilmu klenik.

jenis-ortografiDi dalam ortografi atau grafonomi akan mempelajari bagaimana mewujudkan bentuk bunyi kedalam bentuk huruf dan sekaligus bagaimana kaidah menyusun huruf-huruf itu menjadi konstruksi yang lebih besar, yaitu tulisan.

Pada prinsipnya ada tiga jenis sistem ortografi atau grafonomi yang dikemukakan oleh Soeparno (2003: 89), yaitu ejaan fonologis, ejaan silabis, dan ejaan morfemis.

A. Ejaan Fonologis

Ejaan fonologis ini dapat dibedakan menjadi dua acam, yaitu ejaan fonetis dan ejaan fonemis.

1. Ejaan Fonetis

Ejaan fonetis berusaha melambangkan setiap bunyi yang berbeda, baik bunyi itu membedakan arti maupun tidak. Bahasa yang menggunaan ejaan fonetis ini adalah bahasa Melayu Malaysia atau disingkat Malaysia. Pada penulisan kata agung di dalam bahasa kita, dalam bahasa Malaysia ditulis agong. Penalaran fonetisnya ialah huruf O di situ memang melambangkan bunyi yang lebih dekat ke [O] dari pada ke [E] dari pada ke [U]. akan tetapi pada penulisan kata keagungan kembali menggunakan huruf U sebab memang pengucapannya benar-benar [U] murni. Sebenarnya di dalam kasus itu kedua bunyi tersebut tergolong dalam suatu fonem. Namun yang dipakai dasar penulisn bunyinya (bukan fonemnya), maka keduanya terpaksa dibedakan.

2. Ejaan Fonemis

Ejaan fonemis lebih sederhana daripada fonetis, sebab hanya bunyi-bunyi berstatus fonem saja yang diperhitungkan dalam penentuan huruf yang dipergunakan. Penulisan kata agung dan keagungan, kurung dan kurungan, sarung dan sarungan, menggunakan huruf U sebagai perwujudan fonem /u/ baik pada suku terbuka maupunpada suku tertutup. Apabila dipandang dari segi pengucapannya memang keduanya berbeda, akan tetapi karena keduanya tergolong satu fonem, maka sesuai dengan sistem fonemis keduanya dituliskan dengan satu macam huruf saja. Hal tersebut berlaku juga untuk penulisan kata pilih dan pilihan, kering dan kekeringan, hamper dan menghampiri.

Berdasarkan uraian di atas Soeparno (2003: 90) memberikan contoh perbandingan antara ejaan fonetis dan ejaan fonemis, yaitu:

EJAAN FONETIS EJAAN FONEMIS
a.       Jaelani Sidek

b.      Yang Dipertuan Agong

c.       Jalan Jurong Kecil

d.      Sarong Kelantan

Jaelani Sidik

Yang Dipertuan Agung

Jalan Jurung kecil

Sarung Kelantan

Ejaan fonologis pada prinsipnya memang ingin menuangkan setiap bunyi/ fonem ke dalam suatu huruf. Satu bunyi satu fonem, itulah yang dikehendaki oleh sistem ejaan fonologis ini. namun deemikian apa boleh buat, karena jumlah huruf yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah bunyi bahasa yang ada, maka terpaksa ada hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip ejaan fonologis.

B. Ejaan Silabis

Ejaan silabis adalah sistem ejaan yang menggunakan dasar suku kata. Setiap suku kata dalambangkan satu huruf. Sebagai kelengkapannya sudah barang tentu diperlukan juga tanda-tanda tambahan di samping huruf pokok.

Bahasa yng menggunakan sistem ejaan silabis ini antara lain bahasa Sansekerta dengan huruf Jawa, bahasa Arab dengan huruf Arab, bahasa Bugis dengan huruf Bugis, bahasa Batak Mandailing dengan huruf Mandailing, bahasa Rejang dengan huruf Rejang, bahasa Minang dengan huruf Minangkabau, dan sebagainya.

C. Ejaan Morfomis

Ejaan morfemis adalah sistem ejaan yang menggunakan dasar morfem, konsep, atau pengertian tertentu. Dalam sistem ini setiap huruf atau setiap tanda sudah melambangkan konsep tertentu atau morfem tertentu. sudah barang tentu huruf tersebut juga sudah dapat melambangkan kata tertentu dengan pengertian tertentu. Ejaan ini disebut juga ejaan idiografis, piktografis,, atau logografis. Yang menggunakan ejaan morfemis antara lain tulisan China, Mesir Kuno, Hiroglyph, tulisan Paku di Poenesia, dan lain-lain. Pemakaian seperti:

+ ‘tambah’ % ‘persen’

& ‘dan’ = ‘sama dengan’

Termasuk di dalam sistem logografi kita kenal istilah alograf, yaitu suatu variasi grafem (huruf, aksara) karena pengaruh lingkungan. Alogarf yang nyata terdapat dalam tulisan Arab.

Referensi

Soeparno. (2003). Dasa-dasar linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

Bagaimana Menurutmu?

Related Post

Upaya Pemertahanan Bahasa agar Tidak Punah Seperti halnya dengan budaya lainya, jika ada trend celana senam di era delapan puluhan yang sangat digemari generasi muda, tetapi sekarang sudah ti...
Phonological Development Speech perception in infancy One commonly used technique is known is the sucking habituation paradigm. In this procedure, experimenters measure the...
Cabang-Cabang Ilmu Linguistik Cabang-cabang linguisik dibagi dua yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik dibagi dua yakni umum (fonologi, morfologi, semantik, si...
Kaidah Bahasa dan Warna Kebahasaan Benarkah pendapat yang mengatakan bahwa kaidah bahasa disusun untuk menyeragamkan pemakaian? Kalau benar demikian, bukankah penyeregaman bahasa yang s...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *