Interdisipliner Kajian Wacana terkait Ilmu lain

By | Oktober 15, 2016
interdisipliner-kajian-wacana-terkait-ilmu-lain

Sumber: shutterstock.com

Kajian wacana sebagai salah satu disiplin ilmu dalam linguistik mengkaji penggunaan bahasa dalam suatu tindak komunikasi. Keberadaan kajian wacana tidak dapat dipisahkan ilmu – ilmu yang lain baik unsur internal maupun eksternal linguistik. Sebagai suatu disiplin ilmu, kajian wacana perlu diketahui kedudukanya, peran dan fungsi berbagai ilmu disiplin ilmu lain terhadap kajian wacana, dan ancangan dalam kajian wacana.

A. Kedudukan analisis wacana dalam bidang ilmu lain

Keberdaan kajian wacana tidak dapat dipisahkan dengan ilmu – ilmu lain. Kajian wacana mengkaji unit bahasa diatas kalimat baik berupa naskah, konteks, historis, ucapan yang manana terdapat pada bidang ilmu lain seperti linguistik, semantik, pragmatik, semiotik, psikolinguisitk, sosiolinguisitk dan lainya. Selain itu, analisis wacana sangat erat dengan masalah ilmu sosial dan humaniora dan mampu menerangkan kandungan isi suatu berserta konteks pada disiplin ilmu lain (Purbani, 2005:2). Lihat fenomena wacana dalam prakteks sosial.

Suatu ilmu dapat menjadi disiplin ilmu apabila telah memiliki syarat – syarat tertentu yakni adanya objek yang diteliti, adanya metode ilmiah yang digunakan baik pendekatan dan tekniknya, dan adanya pokok permasalahan yang dikaji. Peran kajian wacana sebagai suatu pisau untuk menjawab berbagai masalah yang muncul. Terlebih, kajian wacana mampu berdiri sendiri karena memiliki objek kajian dan sudah mandiri untuk mengembangkan ilmu wacana itu sendiri, akan tetapi berhubungan dan tidak terlepas dari kontribusi ilmu – ilmu lain. Pada akhirnya dalam perkembanganya analisis wacana dapat digunakan untuk analisis ilmu lain seperti hukum, sejarah, komuniksi, politik, sosial, budaya, psikologi, dan lainya.

B. Peran/ Fungsi berbagai disipilin ilmu lain terhadap kajian wacana

Kajian wacana tidak dapat dipisakah dengan disiplin ilmu lain karena disipilin ilmu lain memberikan kontribusi terhadap kajian wacana. Kajian wacana tidak lepas dari situasi dan konteks pada suatu bahasa baik tidak ujar atau tidnak tutur yang mengandung makna. Tindak tutur tersebut bahkan dapat bekerja untuk manusia yakni memiliki fungsi tetentu bukan hanya makna tetapi juga konteks situasi pasa suatu ujaran. Sebagai contoh kalimat “sikat habis” jika diucapkan oleh komandan regu angkatan bersenjata berarti menyerang secara keseluruhan lawanya, akan tetapi jika di ucapkan di sebuah warung berarti menghabiskan semua makanan yang ada.

Dalam teks hukum, suatu tindak tutur dapat digunakan untuk membalikan fakta dari suatu pernyataan. Dalam bahasa politik bisa saja suatu pernyataan mengandung wacana digunakan sebagai suatu celah untuk kepentingan perseorangan atau golongan tertentu. Oleh sebab itu, bahasa bukan hanya sekedar kumpulan kalimat untuk mendiskripsikan makna, tetapi peran lain yang dimaksudkan oleh penyampai wacana (Mey, 2001: 135 – 136). Oleh sebab itu, wujud penggunaan bahasa suatu wacana dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, aspek isi yakni suatu wacana melihat topik yang dibahas dan bagaimaian topik di sampaiakan baik secara eksplisit maaupun implisit. Kedua, aspek formal yakni bagaimana suatu teks bekerja, aturuan yang dipatuhi, dan bagaimaan keberuturan dapat dicapai seperti jeda, interupsi, dan mekanisme turn- taking yang terjadi dalam tindak komunikasi.

C. Acangan dalam kajian wacana

Ancangan atau approach merupakan pendekatan dalam mengkaji suatu objek dalam kajian wacana. Terdapat 6 pendekatan kajian wacana yang dapat digunakan yakni kajian pragmatik, etnografi, analisis variasi, tidak turur, sosiolinguistik interaksional, dan analisis percakapan. Ke enam pendekatan tersebut dapat dijadikan pandangan dalam menganalisis suatu subjek kajian. Subjek kajian wacana dapat berupa kata, frasa, kalusa, kalimat yang direalisasikan dalam sebuah tuturan, percakapan, paragraf, novel, buku, majalah, bahkan iklan.

Suatu analisis percakapan dalam kajian wacana tidak dibatasi jumlahnya, apakah jumlahnya sedikit atau banyak, selama tujuan analisis sudah didapat dan data sudah jenuh maka sudah dianggap cukup untuk dianalsis. Hal ini dapat diterapkan untuk semua pendakatan dalam kajian wacana.

D. Referensi

  • Mey, Jacob L. 2001. Pragmatics: An Introduction. Australia: Blackwell Publishing.
  • Purbani, Widyastuti. 2005. Analisis Wacana. Disampaikan pada Lokakarya Penelitian di UBAYA, Surabaya (28 Januari 2005).

Related Post

Pengertian dan Batasan Stilistika Linguistik Stilistika dari kata style (bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Kata stilus ...
Fenomena Wacana dalam Praktek Sosial, Ideologi, Ke... Wacana merupakan bagian dari praktek sosial yakni komunikasi. Komunikasi antar pengguna bahasa selalu melibatkan wacana. Setiap penyampai pesan memili...
Linguistic Contributions to The Study of Mind: Pas... I would like to focus attention on the question, What contribution can the study of language make to our understanding of human nature? In one or anot...
Pengertian, Unsur, dan Jenis Semantik Istilah “semantic” relative baru asal muasalnya, yang baru diciptakan pada abad ke-19 dari seorang verba Yunani yang berarti “menandakan’. Tentu saja ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *