Ferdinand de Saussure, Sang Ahli Linguistik

By | November 20, 2016

Ferdinand de Saussure bernama lengkap Ferdinand Mongin de Saussure, lahir di Genewa pada tahun 1857. Kakek dan ayahnya merupakan ilmuwan dalam beberapa bidang, salah satunya bidang mineral. Tak mengherankan jika Saussure juga menjadi seorang intelektual. Dia belajar Bahasa Latin, Yunani, dan Sanskrit di University of Geneva, dan melanjutkan ke University of Leipzig di tahun 1876.

ferdinand-de-saussure

Foto: Ferdinand de Saussure

Saussure mempublikasikan buku berjudul “Dissertation on the PrimitiveVowel System in Indo-European Language’ pada usia 21 tahun. Setelah belajar selama setahun di Berlin, dia menulis tesis doktoral tentang Sankrit. Saussure diterima mengajar di Course of General Linguistic pada tahun 1907.

Menurut beberapa sumber, Saussure mencoba menulis sebuah buku mengenai linguistik secara umum namun tidak pernah memuaskan dirinya. Dia secara sistematik membakar semua manuskrip dan handout pengajaran mengenai linguistik umum miliknya. Kemudian Saussure meninggal pada tahun 1913 di Swiss.

Saussure memang tidak mempublikasikan apapun meskipun dia terlahir jenius. Dia sendiri sering mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak memiliki pengetahuan yang berharga tentang linguistik umum. Meskipun demikian, murid-muridnya akhirnya mengumpulkan catatan kuliah yang diajarkan oleh Saussure dan memutuskan untuk menerbitkannya dalam bentuk sebuah buku.

Catatan kuliah milik Emile Constantin digabungkan dengan catatan milik siswa lainnya. Buku yang dihasilkan berjudul “Course in General Linguistics”. Buku itu dipublikasikan pada tahun 1916, tiga tahun setelah kematian Ferdinand de Saussure.

Apa isi buku “Course in General Linguistics”? beberapa pemikiran Saussure yang tertuang dalam buku tersebut antara lain:

  1. Tanda (sesuatu yang harus dimaknai) merupakan tautan antara petanda dan penanda. Hubungan petanda dan penanda bertaut begitu saja berdasarkan kesepakatan sosial. Sebuah tanda harus memiliki petanda dan penanda.
  2. Syntagmatic: merupakan kumpulan tanda yang terorganisir menjadi sebuah urutan linier. Kata-kata merupakan tanda yang diatur menjadi sebuat urutan syntagmatic.
  3. Sebuat tanda single tidak berarti apa-apa, karena dapat berarti untuk apa saja, jadi nilai datang dari perbedaannya dari tanda lainnya dalam sistem tanda. Nilai terdiri dari dua hal yaitu sesuatu yang berbeda dan dapat diganti dan sesuatu yang sama dan dapat dibandingkan. Saat memilih sebuah tanda dari yang lainnya maka kamu mengartikan sesuatu dengannya.

Referensi

  • Ferdinand de Saussure(1857-1913). Diakses dari: http://pkdas.in/inter/sauss.pdf
  • Riko. 2014. Teori Tanda dalam Kajian Semiotika Struktural Ferdinand de Saussure. Diakses dari: riko.weblog.esaunggul.ac.id/2014/11/10/teori-tanda-dalam-kajian-semiotika-struktural-ferdinand-de-saussure/

Related Post

Cabang-Cabang Ilmu Linguistik Cabang-cabang linguisik dibagi dua yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik dibagi dua yakni umum (fonologi, morfologi, semantik, si...
The Relation of Theory to Practice Acquisition vs ... Discussing about language acquisition and language learning there are a number of theories. Some of theories have tried to explain the definition and ...
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia mirip dengan Bahasa Melayu karena memang berasal dari Bahasa Melayu. Bah...
Campur Kode dan Tenggelamnya Bahasa Indonesia Semakin hari semakin terasa tenggelamnya bahasa Indonesia. Banyak penutur baik di media sosial, acara tv, Youtube, bahkan masyarkat umumpun sekarang l...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *