Dampak Negatif Bahasa yang Tidak Dipertahankan

556 views

Membicarakan tentang pemertahanan bahasa seakan menjadi hal yang tabu sekarang ini. Ditengah pesatnya perkembangan teknologi khususnya ICT (information and communication technology) menjadi bahasa lokal mendapatkan tempat kedua. Katakan saja “instagram” dan rententan kosa kata turunanya dari sosial media ini seperti “hastag, tag, engle, caption” dan lain sebagainya seakan lebih familiar dari kosa kata sepadanya di Bahasa Indonesia. Bahkan bukan bisa saja pengguna bahasa Indonesia tidak tahu apa bahasa Indonesia.

Bahasa asing khususnya bahasa Inggris yang terbalut dalam teknologi membawa dua sumber kosa kata baru yaitu nama produk dan istilah. Nama produk berarti kosa kata baru dari produk – produk tertentu yang bisa saja belum tersimpan dalam kamus monolingual seperti Oxford dan Cambridge. Nama isitlah disini adalah kosa kata – kosa kata yang turunan yang digunakan pada produk tersebut. Istilah ini bisa saja sudah punya padanan dalam KBBI atau memang sudah diserap dalam buku padanan istilah dan ungkapan asing. Akan tetapi tetap saja, kata asingnya yang lebih familiar.

Mengkaca dari latar fakta diatas, maka sekan menjadi hal tabu adanya upaya pemertahanan bahasa. Walau sebenarnya sudah sangat banyak upaya dan penelitian terkait pemetahanan bahasa (language maintenance). Bahkan ada kutipan “sudah ngikut saja” yang seakan menunjuk pengguna bahasa lokal untuk pasrah. Memang betul adanya bahwa dominasi bahasa Inggris sebagai lingua franca tak terelakan hingga saat ini.

Dampak negatif jika tidak ada pemertahanan bahasa

Faktanya adalah pengguna bahasa dalam arti orang Indonesia sudah semakin asing dengan kota katanya sendiri. Bahkan dapat dikatakan orang Indonesia tidak nyaman menggunakan bahasanya. Istilah dan ungkapan asing justru terdegar lebih luwes meskipun pengejaanya tidak sesuai dengan pengucapan aslinya. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa justru isitlah asing akan memperkaya kosa kata bahasa Indonesia.

Bagaikan mata pisau, memang masuknya isitlah asing akan berdampak positif maupun negatif. Akan tetapi coba dilihat lebih dalam apa urgensi pemertahanan bahasa? Bagaimana jika bahasa tidak dipertahakan. Maka berikut ini dampak negatif jika tidak ada pemertahanan bahasa.

1. Bergersernya kosa kata Indonesia

Penggunan kosa kata asing secara tidak sadar akan mengeser bahkan menggantikan kosa kata bahasa Indonesia. Pengguna bahasa cenderung tidak tahu padanan suatu kosa kata asing baik sebenarnya sudah ada atau memang sudah ada kata resapanya baik dalam buku Pengindonesiaan Istilah asing maupun KBBI.

Kata ‘online‘ lebih familiar dari pada kata ‘daring’. Padahal daring merupkan kesepadanan dari kata online. Begitu juga kata ‘tagar, swafoto, nara blog, tandai’ yang merupakan kesepadanan dari kata ‘hastag, selfie, blogger, dan tag’.

2. Perubahan struktur gramatikal

Kosa kata terutama yang lebih dari satu kata membuat pengguna bingung menyusun kata. Susunan gramatikal D M (diterangkan menerangkan) seakan sama dengan (menerangkan diterangkan). Manakah yang benar? media sosial atau sosial media?, Nara salon atau Salon Nara?

3. Hilangnya pamor

Penggunaan bahasa Indonesia sekan tidak mampu mewakili rasa dan nilai yang ada bahasa asing. Mungkin secara akurasi arti bisa tersampkan, tetapi bagaimana dengan keterbacaanya.

 

Komentar ditutup.

Penulis: 
author
Agung Prasetyo, pemilik dan penulis blog LinguistikId.com