Aliran Linguistik Transformasional

By | Desember 1, 2016

Aliran yang dipelopori oleh N. Chomsky ini merupakan reaksi dari paham strukturalisme. Konsep strukturalisme yang paling ditentang oleh aliran ini ialah konsep bahwa bahasa sebagai faktor kebiasaan (habit). Adapun cirri-ciri aliran transformasional yang dikemukakan oleh Soeparno (2003: 41) secara lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan paham mentalistik

Aliran ini beranggapan bahwa proses berbahasa bukan sekedar proses rangsang-tanggap semata-mata, akan tetapi justru menonjol sebagai proses kejiawaan. Proses berbahasa bukan sekedar proses fisik yang berupa bunyi sebagai hasil sumber getar yang diterima oleh alat auditoris, akan tetapi berupa proses kejiawan di dalam diri peserta bicara. Oleh karena itu, aliran linguistik ini sangat erat kaitannya dengan subdisiplin psikolinguistik.

2. Bahasa merupakan innate

Kaum trensformasi menertawakan anggapan kaum struktural bahwa bahasa merupakan faktor kebiasaan (habit). Mereka beranggapan dengan penuh keyakinan bahwa bahasa merupakan faktor innate (warisan keturunan). Apabila kaum struktural dapat memberikan bukti bahwa bahasa merupakan habit, maka kaum trasformasi pun menunjuakn bahwa bahasa bukan habit. Dalam kasus ini Chomsky perna minta bantuan seorang rekannya ahli bedah otak. Berkat bantuan rekannya itu dapat dibuktikan bahwa struktur otak manusia dengan struktur otak simpanse persis sama, kecuali satu simpul syaraf yang ada pada struktur otak manusiatidak terdapat pada struktur otak simpanse. Itulah sebabnya simpanse tidak dapat berbicarawalaupun kadang-kadang ada simpanse yang keterampilan dan kecerdasannya mendekati/sama dengan manusia. Walaupun dilatih dengan metode dril dan practica seribu kali sehari tidak akan mungkin seekor simpanse dapat berbicara, sebab dapat atau tidaknya berbicara itu bukana adanya faktor latihan atau kebiasaan melainkan karena faktor warisan atau innate. Menurut kenyataan dan memang telah dikodratkan bahwa simpanse memang tidak mempunyai innate itu. Jika tidak mungkin seekor simpanse dapat berbahasa.

3. Bahasa terdiri atas lapis dalam dan lapis permukaan

Teoritransformasional memisahkan bahasa atas dua lapis yakni lapis dalam (deep structure, struktur dalam, struktur batin) dan lapis permukaan (surface structure, struktur luar, struktur permukaan). Lapis batin adalah tempat terjadinya proses berbahasa yang sesungguhnya/secara mentalistik, dan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasikan dari lapis batin. Aku tresno marang kowe, aku cinta padamu, I love you, dan wo ai ni merupakan empat struktur permukaan yang ditranformasikan dari satu struktur dalam.

4. Bahasa terdiri atas unsur competent atau performance

Linguistic compotent atau kemampuan linguistik adalah pengetahuan seseorang tentang bahasanya, termasuk juga di sini kemampuan seseorang untuk menguasai kaidah-kaidah yang berlaku bagi bahasanya. Sedangkan linguistic performance atau performasi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa. Kedua unsur tersebut sama-sama penting kedudukannya. Yang satu tidak lebih penting dari yang lain. Namun kenyataannya ada orang yang kompetensinya baik akan tetapi performansinya tidak baik. Sebaliknya ada pula orang yang kompetensi linguistiknya kurang baik akan tetapi performansinya ternyata cukup baik. Yang paling ideal adalah kompetensi dan performansi kedua-duanya baik.

5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat

Kaum transformasional  beranggapan bahwa kalimat merupakan tataran gramatikal tertinggi. Dari kalimat analisisnya turun kef rasa dan kemudian dari frasa turun ke kata. Keistimewaan teori transformasional ini ialah tidak diakuinya eksistensi klausa. Itulah sebabnya mengapa analisisnya dari kalimat langsung turun kef rasa, nelalui klausa. Pengingkaran terhadap keberadaan tataran klausa ini oleh aliran lain dianggap sebagai perlakuan yang semena-mena.

6. Bahasa bersifat kreatif

Ciri ini merupakan reaksi atas anggapan kaum struktural yang fanatic terhadap standar keumuman. Bagi kaum transformasional masalah umum atau tidak umum bukan persoalan. Yang paling penting adalah kaidah. Walaupun suatu bentuk bahasa tersebut belum umum asalkan pembentukannya sesuai dengan kaidah yang berlaku, maka tidak ada halangan untuk mengakuinya sebagai bentuk yang gramatikal. Bentuk kata menggunung ‘menyerupai gunung’ pada konteks ‘sampah telah menggunung di tepi jalan’terbentuk oleh penggabungan bentuk dasar gunung dan prefix meN-. Hal tersebut terjadi pula pada bentukmenganak sungai  yang artinya ‘menyerupai anak sungai’ pada konteks ‘peluhna menganak sungai’. Dengan kaidah semacam itu, maka kita dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif, misalnya:

  1. Bajunya robek membibir ‘menyerupai bibir’
  2. Pohon itu memayung ‘menyerupai payung’
  3. Larinya mengejet ‘menyerupai jet’
  4. Batu itu mengursi ‘menyerupai kursi’
  5. Buah jeruk itu membola ‘menyerupai bola’

7. Membedakan kalimat ini dengan kalimat transformasi

Aliran ini membedakan dua macam kalimat yaiyu kalimat inti dan kalimat transformasi. Kalimat inti adalah kalimat yang belum dikenai kaidah trasformasi, sedangkan kalimat transformasi adalah kalimat yang dikenai kaidah transformasi. Adapun cirri-ciri kalimat inti itu ialah: a) lengkap, b) simple, c) statemen, d) aktif, e) positif, dan f) runtut.

Secara skematis dapat dikemukakan sebagai berikut:

aliran-linguistik-transformasionalAnalisis diwujudkan dalam bentuk rumus dan diagram pohonDi dalam buku tata bahasa dan buku pelajaran bahasa Indonesia kalimat inti diartikan sebagai kalimat yang terdiri atas dua kata, misalnya KB + KK, KB + KB, KB + KS, KB + KBil. Hal ini merupakan suatu kesalahan besar.

Kalimat “Hunter menangkap penyelundup itu” dapat dianalisis sebagai berikut:

a. Diagram pohon (tree diagram)

analisis-diagram-pohonb. Rumus:

  • S → NP + VP
  • NP1 → N
  • NP2 → N + Det
  • VP → V + NP2
  • N  → Hunter, penyelundup
  • V →  Menangkap
  • Det → Itu

9. Gramatikanya bersifat generatif

Tatabahasa yang bertolak dari teori dinamakan tata bahasa generative transformasi (TGT). Di dalam teori ini ada anggapan bahwa aturan gramatika memberikan mekanisme dalam otak yang membangkitkan kalimat-kalimat. Dengan satu kaidah (atau dengan sedikit kaidah) kita dapat menghasilkan kalimat yang tidak terhingga banyaknya.

Teori transformasional ini pada garis besarnya terdiri atas dua generasi, yaitu generasi pertama dan generasi kedua. Generasi pertama ini biasanya disebut generasi “Syntactic Structures”, sedangkan generasi ke dua biasanya disebut generasi “Aspects of The Theory of Syntax”. Generasi pertama berangkat tahun monumental 1957 dan generasi kedua 1965. Perbedaan prinsip kedua generasi itu ialah pada generasi pertama komponen semantic belum diintegratsikan, sedangkan pada generasi ke dua komponen semantic sudah diintegrasikan bersama dengan komponen sintaksis dan fonologi.

Referensi

Soeparno. (2003). Dasa-dasar linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

Related Post

Semantik dalam Studi Linguistik Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam perkembangan sejarah linguistik pada bidang semantik agak ditelantarkan atau bisa disebut kurang mendapatkan pe...
Kajian Linguistik Modern Linguistik modern adalah salah satu studi bahasa yang berkembang sekitar abad ke 19 dan 20an. Di mana ruang lingkup kajian linguistiknya adalah pene...
Ruang Lingkup Sintaksis Sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tentang prinsip dan peraturan membuat kalimat. Selain kalimat, sintaksis juga mempelajari tentang frase dan ...
Sudut Pandang Linguistik dalam Mendekati Objek Kaj... Pakar bahasa berkebangsaan Swiss, yang dijuluki Bapak Linguistik Modern, Ferdinand de Saussure dalam bukunya Course in General Linguistics yang diterb...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *