Penggunaan Adjektiva Elativus Bahasa Jawa di Purworejo

By | November 10, 2016

Abstrak

Adjektiva merupakan kelas kata yang selalu berkembang, termasuk adjektiva elativus bahasa Jawa. Penggunaan adjektiva elativus dikaji dalam penelitian ini dengan tujuan penelitian untuk mengidentifikasi bentuk tuturan adjektiva elativus bahasa Jawa dan menjabarkan eksistensi penggunaan adjektiva elativus di Purworejo. Penelitian kualtitatif digunakan untuk membuktikan teori keberadaan adjektiva ini. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat empat kaidah pembentukan adjektiva elativus yaitu 1) kelompok i terbentuk dari kaidah (a, è, O) ~ i, 2) kelompok u terbentuk dari kaidah (a, O, o) ~ u, 3) kelompok campuran i dan u terbentuk dari kaidah (a) ~ u + (e) ~ i, dan 4) kaidah konsonan k ~ m. Penggunaan adjektiva elativus bersamaan dengan penggunaan bahasa ngoko dan masih banyak digunakan baik dari faktor usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, lawan bicara, dan lokasi pengunaanya.

Kata kunci: sosiolinguistik, masyarkat tutur, adjektiva Elativus

A. Pendahuluan

Suatu kelompok dengan kelompok lain atau seseorang dengan orang lain berinterkasi dengan menggunakan alat komunikasi yang disebut bahasa. Bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan dan gagasan. Bahasa merupakan aset penting dalam kehidupan manusia, karena melalui bahasa sebagai salah unsur peradaban manusia yaitu untuk menyampaikan ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman. Bahasa bersifat sistematis artinya bahasa tersusun menurut pola tertentu dan tidak tersusun secara acak atau sembarangan (Chaer, 2004:12). Jadi, fungsi bahasa yang paling mendasar adalah sebagai alat komunikasi, yakni sebagai alat pergaulan antar sesama manusia dan alat untuk menyampaikan sebuah pemikiran.

Bahasa tumbuh dan berkembang pada lingkup masyarkat tutur dengan  ciri yang khas. Ciri–ciri ini berbeda dengan hewan karena bahasa manusia merupakan sebuah sistem lambang bunyi, bersifat aribeter, produktif, dinamis, dan manuisawi (Chaer, 2004:11). Penggunaan suatu bahasa oleh suatu masyarkat tutur juga dapat menjadi ciri khas suatu budaya yang berbeda dengan bahasa lain. Ragam bahasa ada dua yaitu formal dan informal. Ragam bahasa formal digunakan dalam acara resmi dan dituliskan pada dokumen yang resmi. Sedangkan ragam informal berbentuk tuturan yang digunakan dalam tuturan sehari – hari.

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur yang besar, bahkan dengan penutur terbanyak di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari wilayah tuturan bahasa Jawa tersebut. Bahasa Jawa digunakan di daerah Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur kecuali Madura. Selain itu, bahasa Jawa juga tersebar di beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan yang dibawa oleh pendatang dari suku Jawa ke daerah tersebut. Luasnya wilayah tuturan bahasa Jawa tersebut menyebabkan bahasa Jawa memiliki beberapa dialek yang berbeda di setiap wilayahnya. Beberapa dialek bahasa Jawa yang banyak penggunanya yaitu dialek Yogya-Solo, dialek Banyumasan, dan dialek Jawa Timuran.

Sepertihalnya bahasa Indonesia, bahasa Jawa pun juga berkembang karena adanya kontak dengan bahasa lain. Perkembangan bahasa seperti penyerapan bahasa dapat memperkaya bahasa Jawa akan tetapi juga dapat menghilangkan jati diri bahasa Jawa. Perkembangan bahasa jawa juga terjadi pada tataran morfologi, sintaksis, dan kosa kata. Kontak sosial ini menyebabkan penggunaan kosa kata Jawa yang mulai menurun terutama pada kelas kata tentu seperti kata sifat dan kata benda.

Pembagian kelas kata dalam bahasa Jawa tidak jauh berbeda dengan pembagian kelas kata dalam bahasa Indonesia. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan istilah untuk masing-masing jenis kata. Antunsuhono (1953) membagi kelas kata bahasa Jawa menjadi sembilan, yaitu (1) kata kerja, (2) kata benda, (3) kata sifat,(4) kata keterangan, (5) kata ganti, (6) kata bilangan, (7) kata depan, (8) kata penghubung, dan (9) kata seru (Wahyuni, 2015).

Salah satu adjektiva atau kita sifat yang berkembang karena tuturan lisan yaitu adjektiva evalitus. Adjektiva evalitus terjadi karena perubahan morfologi pada penuturan lisan (ekspresif) (Wahyuni, 2015). Bentuk adjektiva gedhe ‘besar’ megnalami proses morphologi gedhi ‘sangat besar’ dan gedhem ‘sangat besar’ lebih besar dari gedhi.

Kelas kata adjektiva evalitus mirip dengan adjektiva perbandingan dalam bahasa Inggris yang disebut degree of comparison. Adjektiva ini dikaterogorikan menjadi 3 bentuk 1) Possitive degree, 2) comparative degree, dan 3) superlative degree. Penggunaan adjektiva dalam bahasa Inggris lebih teratur yaitu dengan menambahkan morfem –er untuk makna lebih, morfem –est untuk makna paling untuk satu suku kata adjektif, sedangkan menambahan morfem more, untuk makna ‘lebih’, dan the most untuk makna ‘paling’ diterpakan pada kata adjektif lebih dari dua suku kata. Walau masih ada beberapa pengecualian perubahan morfologi adjektiva dalam bahasa Inggris, pola ini berlaku secara formal dan terdapat dalam kamus bahasa Inggris. Pola ini tidak terjadi pada bahasa Jawa karena hanya adjektiva evalitus bersifat sebagai tuturan lisan dan komunikasi informal.

Perubahan pola adjektiva dari kata susah ‘angel’ menjadi ‘angil” dalam bahasa jawa termasuk pola adjektiva berubah bunyi. Menurut Sasangka (2000:183) pola adjektiva berubah bunyi adalah adjektiva yang terjadi karena perubahan jumlah morfemnya karena dibentuk dengan peninggian vokal suku akhir bentuk dasar (netral), pendiftongan suku awal atau suku akhir, dan peninggian vokal sekaligus pendiftongan. Fungsi perubahan bunyi itu untuk menyatakan makna ‘penyangatan’.

Dalam penelitian ini, objek penelitian yang dipilih adalah penggunaan adjektiva elativus bahasa Jawa dialek Yogya-Solo. Dialek Yogya-Solo dipilih menjadi objek penelitian karena banyak leksikon-leksikon yang Jawa netral di banding dialek lainya. Hal ini disebabkan karena letak Yogyakarta yang dekat dari pusat budaya Jawa dan Keraton. Sebenarnya wilayah Yogyakarta dan Solo tidak hanya ditempati oleh suku Jawa saja. Terdapat suku/ etnis lain di luar Yogyakarta dan Solo memungkinkan adanya pengaruh terhadap bahasa Jawa di Yogyakarta. Oleh sebab itu, subjek penelitian akan difokuskan pada masyarakat Purworejo dengan memilih penduduk dengan dialek Yogya-Solo. Penggunaan adjektiva elativus diambil dari tuturan lisan masyarkat Purworejo meliputi wilayah perkotaan, pantai, dan pegunungan dengan latar belakang semua tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, rentang usia 5 tahun hingga 60 tahun.

Penelitian ini mengungkap tentang perkembangan dan penggunaan variasi tuturan bahasa Jawa yang ada pada masyarkat Jawa sebagai salah satu kekayaan bahasa Jawa terutama kata sifat atu adjektiva. Adjectiva elativus sebagai salah satu tuturan yang berkembang saat ini muncul dalam percakapan informal dalam tindak tutur masyarkat Jawa. Tuturan lisan adjectiva evalitus perlu mendapat perhatian dan dideskripsikan secara ilmiah, terlebih tuturan ini banyak digunakan oleh masyarkat Jawa hingga saat ini.

Berdasarkan latar belakang diatas maka secara khusus penelitan ini memiliki beberapa tujuan yaitu 1) mengidentifikasi bentuk tuturan adjektiva elativus bahasa Jawa yang ada di Purworejo. 2) Menjabarkan eksistensi penggunaan adjektiva elativus bahasa Jawa yang ada di Purworejo.

B. Kajian pustaka

1. Sosiolinguistik

Sosiolingusitk merupakan disiplin ilmu yang menggabungkan dua disiplin ilmu sosiologi dan linguistic, ilmu ini bersifat terapan dimana digunakan untuk memecah dan mengatasi masalah-masalah yang ada dalam kehidupan praktis masyarakat, bukan pada linguistic murni, karena dalam sosiolinguistik lebih pada kajian eksternal antar disiplin ilmu (Chaer & Agustina, 2004:2). Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa, sosiolinguistik mengkaji penggunaan bahasa dengan tujuan untuk meneliti bagaimana pemakaian bahasa yang berhubungan dengan aspek aspek lain dari tingkah laku sosial.

Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang  linguistic yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran, serta mengkaji dalam suatu konteks social. Meneliti kolerasi anatara factor factor social itu dengan variasi bahasa (Hickerson 1980: 81 dalam Chaer & Agustina 2004:4). Menurut Nurhayati (2009:3), kajian kemasyarakatan dalam sosiolinguistik mencakup antara lain: partisipan atau pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi, baik dalam kelompok besar maupun kecil; fungsi kelompok; persentuhan dalam kelompok; sector-sektor sosial; hubungan-hubungan dan perbedaannya. Masalah utama yang dibahasa oleh sosioliguistik adalah: (1) mengkaji bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan; (2) menghubungkan faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri, dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor-faktor sosial dan budaya; (3) mengkaji fungsifungsi sosial dan penggunaan bahasa dalam masyarakat (Nababan, 1991: 3). Adapun topik-topik utama dalam sosiolinguistik menurut Nababan (1991: 3) yaitu: (1) bahasa, dialek, idiolek, dan ragam bahasa; (2) repertoar bahasa; (3) masyarakat bahasa; (4) kedwibahasaan dan kegandabahasaan; (5) fungsi kemasyarakatan bahasa; (6) penggunaan bahasa (etnografi bahasa); (7) sikap bahasa; (8) perencanaan bahasa; (9) interaksi sosiolinguistik; (10) bahasa dan kebudayaan.

2. Morfofonemik

Morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Proses morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan (Arifin, 2007:8). Menurut Chaer, (2007:194) morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1985:75). Morfem {ber-}, misalnya, terdiri dari tiga fonem, ialah /b/, / Ə /, /r/. Akibat pertemuan morfem {ajar}, fonem /r/ berubah menjadi /l/, hingga pertemuan morfem {ber-} dengan morfem {ajar} menghasilkan kata {belajar}. Terjadi proses morfofonemik yang berupa perubahan fonem, ialah perubahan fonem /r/ pada {ber-} menjadi /l/. Kata {kerajaan} /k Ə raja?n/ terdiri dua morfem, ialah morfem ke-an dan raja. Akibat pertemuan kedua morfem itu, terjadilah proses morfofonemik yang berupa penambahan, ialah penambahan fonem /?/ pada ke-an, hingga morfem ke-an menjadi /k Ə -?an/. Dapat disimpulkan bahwa, sebenarnya yang berubah bukan fonemnya, melainkan hanya fonnya saja. Hal ini dikarenakan fonem adalah satuan bunyi terkecil yang membedakan arti. Selain itu yang berubah bukan fonem pada afiks saja, tetapi perubahan dapat terjadi pada fonem awal bentuk dasarnya.

3. Bahasa Jawa

Bahasa jawa merupakan bahasa Ibu suku Jawa yang ada di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Tidak hanya di pulau Jawa, bahasa Jawa juga berkembang ke pulau lain seperti Sumatera, kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua. Hal ini dikarenakan banyaknya orang Jawa yang bertansmigrasi ke luar Pulau Jawa. Tidak hanya itu saja menurut Kompas terdapat 6 negara yang menggunakan bahasa Jawa  yaitu 1) Suriname, 2) Singapura, 3) Malaysia, 4) Kalendonia Baru, 5) Blanda, dan 6) Indonesia. Penyebaran Bahasa Jawa di Indonesia terutama terjadi di kawasan Pantai Utara dari Banten hingga Jawa Timur. Jumlah Pentutur bahasa Jawa berada pada urutan ke-11 di dunia dengan jumlah 75,5 juta penutur di Dunia dari 6.703 bahasa (Wedhawati dkk, 2006:1).

Berbeda dengan bahasa lainya, bahasa Jawa memiliki tingkat tutur yang ditentukan oleh sikap pembicara kepada mitra tuturnya (Wedhawati dkk, 2006: 10). Perbedaan tingkat tutur ini didasarkan pada umur, strata sosial, dan jarak keakraban. Tingkat tutur tersebut antara lain ngoko, madya, krama, krama inggil, krama-desa, kedhaton, dan kramantara. Sekarang ini tingkat tutur hanya dibagi dua yaitu ngoko (lugu dan alus) dan kram (lugu dan alus).

Dalam interaksi sosial bahasa jawa mengalami perubahan dikarenakan kontak bahasa dengan bahasa lain dan persebaranya yang luas. Perubahan bahasa ini mengakibatkan variasi pemakaian bahasa yang disebut dengan dialek. Dialek adalah variasi penyimpangan bahasa dari bahasa baku menjadi bahasa yang berstatus rendah, kasar, dan tidak netral (Chambers & Trudgill, 1980:3). Sekarang ini bahasa Jawa berkembang menjadi tiga dialek yaitu dialek Yogya – Solo yang disebut sebagia dialek netral, dialek Banyumas, dan dialek Jawa Timur.

4. Kategori adjektiva

Adjektiva adalah kata yang berfungsi sebagai memberi keterangan tentang sifat atau keadaan pada kata benda (nomina) didalam tataran frasa (Wedhawati dkk, 2006:179). Dilhat dari kelas katanya adjektiva termasuk content word yaitu sebuah kata yang selalu berkembang dan bertambah. Perkembagan dapat dibuktikan dengan terbentuknya kata baru baik dari tataran morfologi maupun fonologi.

Termasuk adjektiva bahasa Jawa yang dapat diklasifikasikan menjadi menjadi lima kategori yaitu 1) kategori kata tunggal, 2) kategori reduplikasi, 3) kategori elativus, 4) kategori eksesivus, dan 5) kategori –an (Wahyuni, 2015). Contoh kategori kata tunggal terdapat pada: abang ’merah’, ijo ’hijau’, dan gedhe ’besar’. Contoh kategori reduplikasi terdapat pada: abang-abang ’semua merah’, ijo-ijo ’semua hijau’, dan gedhe-gedhe ’besar-besar’. Contoh kategori elativus terdapat pada; abing ’sangat merah’, iju ’sangat hijau’, dan gedhi ’sangat besar’. Contoh kategori eksesivus terdapat pada: kabangen ’terlalu merah’, kijonan ’terlalu hijau’, dan kegedhen ’terlalu tinggi’. Contoh kategori –an terdapat pada kata: isinan ’sering atau memiliki sifat malu’, ngamukan ’sering atau memiliki sifat marah’.

 5. Adjektiva elativus bahasa Jawa

Adjektiva kategori elativus merupakan kelas kata yang produktif dan sistematis dalam membentuk kata-kata baru. Adjektiva elativus satu-satunya adjektiva bahasa Jawa yang mengalami perubahan bunyi serta makna (Wahyuni, 2015). Kata sifat yang mengalami peurubahan adjektiva elativus bermakna ‘amat’ atau ‘sangat’ yang merupakan penekanan dari kata sifat dasarnya. Adjektiva ini dibentuk dari dari adjektiva dengan peninggian vokal atua suku ultima (alofonya), yaitu menjadi i dan u yang disertai tekanan keras pada suku kata tersebut (Subroto, 1991: 125-126).

Adjektiva kategori elativus termasuk dalam perubahan morfofonemik, yaitu perubahan bentuk fonemis sebuah morfem akibat pertemuannya dengan morfem lain di sekitarnya dalam pembentukan kata. Maksudnya, terjadinya perubahan-perubahan itu karena gejala bentuk semata-mata sehingga bersifat mengatasi jenis-jenis kata. Karena bersifat sistematis, terdapat kaidah-kaidah tertentu yang bersifat mengatur. Secara umum, adjektiva kategori elativus dikenal juga sebagai bentuk superlatif atau mbangetake ’menyangatkan’ (Sutarsih, 2013).

Menurut Wahyuni (2015) dalam penelitianya tentang adjketiva kategori elativus pada wilayah Pati, Rembang dan Blora sebagai daerah pengamatan mengkalsifkasikan adjektiva elativus dalam dua kelompok yaitu kelompok i dan kelompok u. Kelompok i merupakan adjektiva kategori elativus yang terbentuk dari kaidah (I, è, O) ~ i. Proses morfologis kelompok i terdapat pada suku terakhir. Fonem / I, è, O/ pada suku terakhir tertutup maupun terbuka berdistribusi dengan fonem /i/ menurunkan bentuk elativus. Contoh adjektiva elativus kaidah (I, è, O) ~ i antra lain 1) gloss ‘baik’, bentuk netra ‘apI?’, bentuk penyangatan ‘api?’, kaidah I ~ i, makna penyangatan ‘sangat baik’. 2) Gloss ’banyak’, bentuk netral ‘akèh, okèh’, bentuk penyangatan ‘akih’, kaidah è ~ i, makna penyangatan ‘sangat banyak’. 3) Gloss, ‘lebar’, bentuk netral ‘OmbO’, bentuk penyangatan ‘Ombi?’, diksi O ~ i?, makna penyangatan ’sangat lebar’.

Adjektiva kategori elativus kelompok u terbentuk dari kaidah (a, O, o) ~ u. Proses morfologis kelompok u juga terdapat pada suku terakhir. Fonem /a, O, o/ berdistribusi dengan fonem / u / menurunkan bentuk elativus. Contoh adjektiva elativus kaidah  (a, O, o) ~ u  antara lain 1) gloss ’merah’, bentuk netral ‘abaŋ’, bentuk penyangatan ‘abuŋ’, kaidah a ~ u, makna penyangatan ‘sangat merah’. 2) Gloss ‘jauh’, bentuk netral ‘adOh’, bentuk penyangatan ‘aduh’, kaidah O ~ u, makna penyangatan ’sangat jauh’. 3) Gloss ‘dalam’, bentuk netral ‘jero’, bentuk penyangatan ‘jeru’, kaidah o ~ u, makna penyangatan ‘sangat dalam’.

C. Metode penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini membangun teori (grounded teory) tentang keberadaan adjektiva elativus di masyarakat tutur Purworejo. Sumber data berupa tuturan masyarkat dialek Jawa Yogya-Solo di Purworejo. Data dalam penelitian ini meliputi kumpulan kata yang mengandung adjective elativus dalam tuturan informal atau percakapan sehari–hari. Responden penelitian ini adalah etnis Jawa asli di Purworejo. Sampel penelitian berjumlah 12 orang ditentukan secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan untuk mengumpulkan data hingga datanya jenuh. Insturmen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan catatan dan alat rekam untuk menggali pola dan sikap etnis Jawa di Purworejo terhadap penggunaan adjektiva elativu. Teknik analisis data dilakuakn dengan metode analisis interkatif mulai dari dari reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan/ verifikasi.

D. Hasil dan Pembahasan Penelitian

Penggunaan adjektiva elativus bahasa Jawa di daerah pengamatan di Wilayah Purworejo dapat dideskripsikan pada hasil penelitian ini. Masyarkat tutur di Purworejo menggunakan adjektiva elativus dapat dibuktikan dalam beberepa aspek yaitu 1) bentuk adjektiva elativus yang digunakan, 2) fungsi dan makna adjektiva elativus tersebut, dan 3) eksistensi penggunaanya dalam tindak tutur lisan.

1. Bentuk adjektiva elativus di Purworejo

Bentuk atau kaidah yang ada di dearah pengamtan Purworejo dengan di daerah pengamatan wilayah Pati, Rembang dan Blora memilki persamaan dan perbedaan. Perbedaanya yaitu tidak terdapat adjektiva kategori elativus kelompok i terbentuk dari kaidah (a, è, O) ~ i, sedangkan pada kelompok u terbentuk dari kaidah  (a, O, o) ~ u. Selain itu masih terdapat kelompok campuran i dan u terbentuk dari kaidah (a) ~ u + (e) ~ i, dan kaidah konsonan (k ~ m).

Kaidah (a, è, O) ~ i

contoh-adjektiva-elativusKaidah (a, O, o) ~ u

contoh-penggunaan-adjektiva-elativusKaidah (a) ~ u + (e) ~ i

 

Kaidah konsonan (k ~ m)
contoh-penggunaan-kata-sifat-elativusSecara garis besar dapat ditakan bahwa pembentukan adjektiva elativus di Purworejo sebagai salah satu kelas kata yang produktif dan sistematis kerena memiliki pola tertentu yang dijabarkan dalam empat kaidah diatas.

2. Eksistensi penggunaan adjektiva eltivus

Masyarkat tutur wilayah Purworejo sampai saat ini sebagian besar masih menggunakanya adjektiva elativus karena telah menjadi tuturan sehari-hari. Eksistensi adjektiva elativus di Purworejo dikarenakan bahasa Jawa ngoko lebih sering digunakan dari bahaa kromo terutama dalam pergaulan dan percakapan informal. Penggunaan adjektiva elativus digunakan dengan memperhatikan lawan bicara, penggunaanya terjadi pada teman sebaya, tetangga, dan keluarga. Tidak hanya dilakukan oleh orang tua, adjektiva ini digunakan oleh semua usia mulai dari anak – anak hingga dewasa. Anak-anak masih menggunakan adjektiva ini karena dipengaruhi oleh lingkungan dan orang tuanya, bahkan dapat dikatakan telah menjadi bagian dari bahasa Ibu. Lokasi penggunaanya dilakukan di rumah, di pasar, di sekolah, di warung, dan tempat umum lainya bersamaan dengan bahasa ngoko.

Penggunaan adjektiva elativus di Purworejo sebagai pola superlatif justru lebih sering digunakan dari pada adjektiva netralnya. Hal ini menimbulkan pergerseran makna penyangatan yang mulai memudar. Pola ini dapat dilihat dengan penambahan kata banget pada akhir adjektiva penyangatan misal sangat jauh ‘aduh banget’, sangat terang ‘pading banget’, dan sangat lapar ‘ngelih banget’. Pola ini lebih menekankan lagi adjektiva elativus sudah ada yang sudah bermakna ‘sangat’.

E. Kesimpulan

Adjektiva bersifat terbuka dan selalu berkembang dapat memperkaya kosa kata bahasa Jawa. Proses morfofonemik dalam adjektiva elativus bahasa Jawa memiliki karakteristik khas sebagai kekayaan budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Hal ini juga dapat dilihat pada kaidah adjektiva yang ada di Purworejo. Kaidah pembentukan adjektiva elativus yang ada di Purworejo terdiri dari empat kaidah yaitu 1) kelompok i terbentuk dari kaidah (a, è, O) ~ i, 2) kelompok u terbentuk dari kaidah (a, O, o) ~ u, 3) kelompok campuran i dan u terbentuk dari kaidah (a) ~ u + (e) ~ i, dan 4) kaidah konsonan yang dicontohkan dari kaidah k ~ m pada kata netral ‘cilik’ menjadi bentuk penyangatan ‘cilim’.

Penggunaan adjektiva elativus di Purworejo tidak mengalami penurunan baik karena faktor usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, lawan bicara, dan lokasi. Eksistensi penggunaan adjektiva elativus selalu ada karena bersamaan dengan intensitas bahasa ngoko yang masih banyak digunakan di Purworejo. Dapat dikatakan bahwa, diamana bahasa ngoko berada maka disitu adjektiva elativus berkembang. Bentuk adjektiva elativus di Purworejo lebih dominan dari pada bentuk netralnya, hal ini dibuktikan dengan intesitas penggunaanya yang lebih banyak dan penambahan kata ‘banget’ yang bermakna ‘sangat’. Selain itu, adjektiva ini merupakan kelas kata yang produktif dan terbentuk secara sistematis dalam pembentukan kata sifat baru. Terlebih perkembangan bahasa lisan yang lebih cepat dari bahasa tulis memungkinkan adjektiva ini berbeda dengan adjektiva ditempat lain dalam arti bisa pula mengalami peningkatan atau kepunahan.

F. Daftar Pustaka

  • Arifin, Z. dan Junaiyah. 2007. Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: PT Grasindo.
  • Chaer, A. 2007. Linguistik Umum. Jakarta:Rineka Cipta.
  • Chaer, A. dan Agustina, L. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Chambers, J.K. & Trudgill, P. 1980. Dialectology. Edisi kedua. Cambridge: Cambridge Univeristy Press.
  • Kompas.com. 2011. http://forum.kompas.com/teras/48286-wow-bahasa-jawatersebar-di-6-negara-dunia.html/. Diakses 1 Mei 2016.
  • Ramlan, M. 1985. Tata bahasa Indonesia Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi offset.
  • Sutarsih. (2013). Perubahan Bentuk Kata Bermakna Superlatif Dalam Bahasajawa. Jurnal Jalabahasa (9)1, hlm.87-97. Semarang: Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.
  • Subroto, D.E. dkk. 1991. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Jawa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Wedhawati dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Sasangka, S.S.T.W, Indiyatini, T, Widjaja, N.H. 2000. Adjektiva Dan Adverbia Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.
  • Wahyuni, S. 2015. Adjektiva Kategori Elativus: Pemerkaya Kosakata Bahasa Jawa. Kandai Volume 11 No.2, hlm 151-160.

Related Post

Interdisipliner Kajian Wacana terkait Ilmu lain Sumber: shutterstock.com Kajian wacana sebagai salah satu disiplin ilmu dalam linguistik mengkaji penggunaan bahasa dalam suatu tindak komunikasi. K...
Pengertian Wacana dan Analisis Wacana Wacana merupakan salah satu kajian dalam ilmu linguistik yakni bagian dari kajian dari pragmatik. Wacana memiliki kedudukan lebih luas dari klausa d...
Klasifikasi Bahasa di Dunia Terdapat jutaan bahasa berbeda didunia, setiap bahasa ternyata dapat dikelompokkan atau di klasifkasi menjadi beberapa rumpun bahasa. Terdapat dua j...
Penerapan Kohesi, Koherensi dan Referensi dalam Ka... Suatu teks memiliki wacana jika unsur kohesi, koherensi, dan referensi terdapat pada suatu teks. Untuk mengetahui unsur – unsur tersebut maka perlu me...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *